Chapter 2
Cast:
■ Lee Jinri [OC]
■ Kim Woo Bin
■ Lee Min Ho
Genre: Romance
Length: Chapter
Writer: 찬'sbae
Rating: PG-18
"Apa yang membuat semua orang kadang terlihat sangat egois?"
"Perasaan. Yang dapat mengalahkan akal sehat bahkan logika mereka sendiri."
***
Author's POV
"Dia bilang, kau adalah cinta pertamanya. 13 tahun yang lalu."
Sepasang mata Jinri membulat sempurna mendengar perkataan dari pria yang ada dihadapannya. Apa Woo Bin minum alkohol? Kenapa bicaranya tidak masuk akal sama sekali?
"Tidak. Itu omong kosong." Jinri menepis pernyataan Woo Bin. Ini tidak mungkin! Cinta pertama? Tapi kenapa Jinri tidak mengingatnya sama sekali?
"Kuharap begitu." Woo Bin menghela nafasnya kasar lalu berdiri, melepas jaket kulitnya serta baju tipis putihnya.
"YA! Kenapa harus membukanya disini?!" Jinri menutup matanya dengan kedua tangannya. Yang benar saja, bagaimanapun ini membuat Jinri merasa tak nyaman. Dia tidak terbiasa melihat tubuh bagian atas seorang pria secara langsung seperti ini.
"Jangan berlebihan. Atau kau juga ingin aku membuka semuanya disini?" Goda Woo Bin yang sukses mendapat lemparan bantal kecil yang ada di sofa.
Bug.
Tepat mengenai wajah pria itu. Lemparan yang bagus.
"Enyah dari hadapanku Woo Bin-ah!" Seru Jinri sembari tetap menutup kedua matanya. Woo Bin tertawa. Setidaknya gadis itu dapat membuatnya sedikit melupakan apa yang telah terjadi hari ini. Niatnya yang dari awal ingin menghabisi Min Ho, hilang begitu saja saat ini.
"Aku mandi dulu." Woo Bin melengos pergi menuju kamar mandi, masih dengan keadaan bibirnya yang tersenyum.
"Hei ini sudah larut, nanti kau sakit!"
"Tidak masalah. Ada kau yang akan merawatku nanti jika aku sakit."
"Aish!" Jinri menggerutu. Pria itu memang sangat, sangat, dan sangat keras kepala.
Tidak ada yang bisa Jinri lakukan saat ini. Malam sudah larut, dan matanya pun mulai tidak stabil untuk tetap terbuka. Jinri memutuskan untuk bergegas pergi ke kamar.
Sepertinya besok dia akan mulai bertindak dan mengambil resiko.
*
"Ngggg—" Seorang gadis mengerang dan sedikit mengubah posisi tidurnya. Matanya terasa nyeri saat cahaya matahari pagi mencoba masuk kedalam matanya, berusaha menyadarkan.
"Selamat pagi." Suara yang berat dan sedikit lantang. Kira - kira itu pendapat si gadis, Lee Jinri mengenai suara kekasihnya sendiri, Kim Woo Bin.
"Aku masih mengantuk. Ish." Jinri menutup seluruh kepalanya dengan bantal. Dia rasa, ini masih terlalu pagi. Dan ini kali pertama selama 6 hari ini, Woo Bin yang memutuskan untuk bangun lebih awal dari Jinri. Hari - hari yang lalu, itu sebaliknya.
"Aish. Kau ini," Woo Bin mulai menggerutu. Menghampiri gadis yang selalu ada dipikirannya itu pelan - pelan.
"Apa kau tidak ingin membuatkanku sarapan, hm?" Lanjut Woo Bin. Ia sekarang sudah berdiri disamping kasur, menarik paksa bantal yang menutupi wajah Jinri.
Jinri membuka matanya, memasang wajah yang kesal, lalu mulai bangkit dari posisi tidurnya untuk duduk.
Woo Bin memandang gadisnya, bingung.
Jinri menatap Woo Bin tajam walau matanya belum terbuka sempurna. Lalu pandangannya menurun sampai ke bagian tubuh Woo Bin yang paling bawah, telapak kaki.
"Tanganmu, utuh. Satu pasang." Jinri menggapai kedua tangan Woo Bin dan mengangkatnya agar Woo Bin bisa melihatnya juga. Seakan Jinri menunjukkan bahwa tangan kekasihnya itu masih utuh.
"Kakimu, utuh. Masih satu pasang juga." Jinri menepuk - nepuk paha Woo Bin yang masih tertutup oleh kain celananya.
Woo Bin mengangkat alisnya, dia benar - benar bingung. Apa sekarang gadisnya ini kurang sehat?
"Matamu, masih utuh. Satu pasang juga!" Jinri membentuk jari tangannya dengan angka 'dua' lalu menunjuk kedua mata Woo Bin dengan dua jari nya itu.
"Hei apa kau—"
"Dengan keadaan yang masih serba utuh seperti ini, kenapa kau tidak membuat sarapanmu sendiri huh? Kenapa kau harus mengganggu tidurku?" Gerutu Jinri, menggaruk - garuk kepalanya yang justru membuat nya terlihat sangat berantakan.
"Aku ingin kau jadi istri yang baik. Untukku nanti." Woo Bin tersenyum simpul, mengacak - acak pelan rambut Jinri yang sudah berantakan, lalu pergi meninggalkan Jinri yang masih terduduk diam dikasurnya.
—
"Kau mau makan apa?" Jinri sudah rapi. Dia sekarang berada didapur, segera menyiapkan sarapan untuk Woo Bin.
"Apa saja. Asal kau yang memasaknya." Woo Bin sedang duduk di meja makan yang berada tepat didepan dapur.
"Baiklah," Jinri mulai mengambil bahan yang ada di lemari pendingin dengan hati - hati. Menaruhnya di meja dekat kompor, lalu menatanya.
"Jangan menatapku terus seperti itu." Jinri memandang Woo Bin sekilas yang juga sedang melihatnya memasak saat ini, lalu kembali fokus dengan bahan masakannya.
Woo Bin tidak menggubris perkataan Jinri. Dia masih setia menatap Jinri dengan senyuman yang terukir di wajahnya, dan tangan yang menopang kepalanya di meja.
"Lama sekali ish." Gerutu Woo Bin. Kekasihnya masih sibuk memasak untuknya.
"Kau masak apa?" Woo Bin memasang wajah sedikit kesal. Tetap duduk, tetapi tidak lagi menopangkan kepalanya ditangannya, dia melipat kedua tangannya tepat didepan dadanya.
"Diamlah. Ini sudah hampir matang."
"Jinri-ya, Aku bisa mati kelaparan."
"Kalau begitu, mati saja."
"YA!"
Jinri tertawa saat pandangannya masih fokus dengan masakannya.
Sarapanpun siap setelah Woo Bin menunggu cukup lama dan hampir membuatnya kesal setengah mati. Woo Bin mulai memakan masakan Jinri, sedangkan Jinri duduk diam dihadapannya dan menunggu respon dari kekasihnya tentang masakannya.
"Oh ayolah, ini enak sekali." ucap Woo Bin dengan mulutnya yang penuh dengan daging asap dan nasi.
"Kau bilang—" Ucapan Jinri berhenti.
Bel apartment Woo Bin berbunyi, tanda ada seseorang didepan pintu apartment mereka. Sebentar..... Bukankah Woo Bin pernah mengatakan bahwa hanya dia dan Jinri lah yang tahu tentang apartment ini?
"Biar aku yang membukanya." Jinri mulai bangkit berdiri, kali ini dia harus siap untuk menghadapi siapapun. Siapapun!
"Jangan. Biar aku saja. Kau tetaplah disini." Woo Bin menahan lengan Jinri dan mulai bangkit berdiri. Bagaimana jika ternyata itu Min Ho, si pria menyedihkan? Atau orang suruhan yang diperintah oleh Min Ho untuk menjemput paksa Jinri? Oh tidak - tidak. Hal itu tidak boleh terjadi.
"Kau yang harusnya tetap disini. Duduk dan habiskan sarapanmu." Jinri menepis tangan Woo Bin pelan, berjalan menuju pintu masuk sekaligus pintu keluar apartment tersebut.
Woo Bin mendengus.
Sebelum Jinri membuka pintunya, dia berniat untuk melihat, siapa yang datang ke apartment pribadi kekasihnya tersebut se-pagi ini? Dia menggeser kunci layar LCD yang dekat dengan pintu, menghubungkan ke kamera pemantau yang ada didepan pintu bagian luar apartment.
"Ahjumma?" Gumam Jinri lalu membulatkan kedua matanya sejenak. Ya, tamu pagi hari ini yang tertangkap oleh kamera pemantau adalah ibu kekasihnya, Nyonya Kim yang sedang berdiri didepan pintu apartment itu.
Jinri menarik nafas, lalu menghembuskannya kasar. Kedua tangannya mengepal dan dadanya berdebar. Sungguh tidak bisa dipungkiri, sekarang dia merasa takut.
"Siapa yang datang?" Teriak Woo Bin dari arah dapur. Jinri tidak menggubris. Dan dengan sisa - sisa keberaniannya, dia mulai membuka pintu dengan ragu - ragu.
"Selamat pagi, Ahjumma." Jinri membuka lebar pintunya, membungkuk memberi hormat dan sapaan. Sebenarnya, hal itu dia lakukan karena dia hanya ingin menghindari tatapan mata dari ibu Woo Bin.
"Kau sungguh tidak tahu diri," Ibu Woo Bin melengos masuk sedikit kedalam apartment anaknya. Ia mengepalkan tangannya kuat. Hatinya masih belum bisa menerima Jinri. Dia masih tetap pada pendiriannya. Jinri bukan gadis yang akan menaikkan status sosialnya di khalayak umum.
"Bukankah aku menyuruhmu untuk segera pergi dari kehidupan Woo Bin?" Jinri kini ada dihadapan Nyonya Kim. Dia tidak ingin menunduk. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia harus berani. Dia harus membangun tembok pertahanan yang kuat didalam hatinya agar tidak mudah jatuh dan hancur.
"A-aku tidak bisa, ahjumma." Jinri menatap sendu mata Nyonya Kim. Nyonya Kim yang awalnya mengalihkan pandangan matanya ke arah lain, kini mulai membalas tatapan Jinri. Dengan tatapan yang tajam, tentunya.
Plak.
Tangan yang terlihat sedikit kaku melayang ke pipi Jinri. Perih.
"Eomma?!" Woo Bin terkejut saat dia melihat ibunya menampar pipi kekasihnya, dia mulai menghampiri wanita paruh baya dan gadis tersebut.
Jinri menunduk diam. Tidak. Untuk kali ini dia harus menahan tangisnya. Dia harus menahan rasa sesaknya. Sekali lagi kutekankan, ia harus terlihat kuat dan berani.
"Kau membuat Woo Bin lari dari acara yang kau tahu itu sungguh penting bagi keluargaku. Kau mengajaknya bersembunyi ditempat ini. Tanpa ada orang yang tahu. Dan kini dengan beraninya kau mengatakan tidak bisa pergi dari Woo Bin? Dimana akal sehatmu?"
"Eomma ini ti—"
Ucapan Woo Bin berhenti saat ia melihat Jinri yang tiba - tiba berlutut. Tepat dihadapan kaki Nyonya Kim. Dan tetap dalam keadaan menunduk.
"Maaf, ahjumma. Jika memang karena aku, Woo Bin lari dari acara pertunangannya. Maaf juga karena aku tidak sanggup jika harus melepaskan Woo Bin. Memang terdengar egois dan tolol, tapi sungguh ini yang aku putuskan. Aku tidak peduli lagi dengan akal sehat, karena itu sungguh menyulitkan aku. Sekali lagi maafkan aku jika ini lancang, ahjumma. Tapi tolong, setujui hubungan kami. Aku mencintai Woo Bin. Sangat dan sangat mencintainya." Jinri tetap menahan tangisnya. Dia melontarkan rentetan kalimat - kalimat yang memang seharusnya ia katakan sedari dulu. Ia tidak sanggup lagi bersembunyi dari masalah yang harusnya ia hadapi dan ia selesaikan.
Nyonya Kim tercengang. Woo Bin pun merasakan hal yang sama. Dia tidak menduga bahwa Jinri akan bicara dengan ibunya se-berani ini.
"Begitupun aku, eomma. Aku juga sangat mencintai gadis yang ada disampingku ini. Maaf jika aku mempermalukan kalian karena acara itu gagal. Aku hanya ingin mempertahankan kebahagiaanku sendiri, eomma. Apa itu salah? Dan kebahagiaanku adalah bersama Jinri. Hanya itu. Aku mohon eomma, setujui hubungan kami." Woo Bin pun ikut berlutut disamping Jinri dan ikut memohon kepada ibunya agar bisa sedikit membuka hatinya untuk menerima Woo Bin yang memilih bersama Jinri. Bersama pilihannya sendiri.
Nyonya Kim merapatkan rahang bawahnya. Sangat angkuh. Matanya tidak ingin melihat Jinri dan Woo Bin yang sedang berlutut didepan kakinya. Setelah dia berhasil mencerna apa yang telah mereka berdua katakan, Nyonya Kim keluar dari apartment Woo Bin tanpa sepatah kata pun. Meninggalkan mereka yang masih diam dalam posisinya.
Jinri dan Woo Bin menatap punggung Nyonya Kim dengan nanar. Jinri takut. Bagaimana jika semua perkataannya tadi tidak digubris sama sekali? Bukankah itu akan sia - sia?
"Kau hebat." Woo Bin tersenyum menoleh menatap Jinri. Jinri membalas tatapan Woo Bin lalu mengangguk dan tersenyum. Bagus! Bahkan sampai detik inipun tidak ada air mata yang keluar. Dia menepati janji kepada dirinya sendiri untuk tidak membuang - buang air matanya lagi kali ini.
Woo Bin berdiri. Menawarkan tangannya yang akan membantu Jinri bangkit dari posisinya. Jinri meraih tangan Woo Bin, berusaha bangkit dari posisinya.
"Woo Bin-ah, bagaimana jika ahjumma tetap—"
"Ssst. Jangan khawatir. Eomma sebenarnya tidak sejahat itu. Dia hanya terbutakan oleh status sosial dan harta," Woo Bin mengerlingkan matanya lalu tersenyum.
"Dan kurasa kita tadi mulai berhasil menyadarkannya." Woo Bin melanjutkan ucapannya sembari berjalan mendahului Jinri menuju ruang tengah.
"Jangan terlalu percaya diri."
"Jangan terlalu takut dan terus berpikiran buruk."
***
Seorang gadis terlihat menekan bel apartment berulang - ulang. Semburat kekesalan terlukis jelas di wajahnya.
"Oh sungguh. Apa dia sedang tidak ada disini?" Gadis itu mulai menggerutu. Matahari sudah tenggelam dua jam yang lalu, dia bahkan harus berbohong kepada kekasihnya agar bisa berada disini. Ya. Lee Jinri. Sekarang dia berada tepat didepan pintu apartment Min Ho. Tujuannya? Menemui pria itu, mengatakan bahwa dia akan melunasi hutang - hutangnya sedikit demi sedikit, menanyakan apa maksud omong kosong 'cinta pertama' nya, dan membatalkan pernikahan konyol nya. Walau dia tahu itu tak akan mudah, tapi bagaimanapun dia harus segera menyelesaikan ini.
"Nona Lee Jinri?" Suara yang tepat dibelakangnya dan tak asing ditelinga Jinri. Berat dan meng-intimidasi. Lee Min Ho. Ya, itu pasti dia.
"Min Ho-ssi, kita perlu bicara." Jinri membalikkan tubuhnya dan mendapati Min Ho dengan wajah lelahnya, pulang dari mengurus perusahaannya.
"Kalau begitu kita perlu masuk terlebih dahulu."
"Kurasa tidak—" Min Ho tidak menggubris ucapan gadis itu dan mulai sedikit melewati Jinri, menekan kode untuk membuka pintu apartmentnya. Setelah pintu berbunyi tanda kunci sudah terbuka, Min Ho mulai masuk ke dalam dan disusul dengan Jinri yang mengikutinya dari belakang.
"Aku ingin kau membatalkan pernikahan kita." ucap Jinri saat dia masih mengikuti langkah Min Ho yang entah mau ke arah mana.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
"Kumohon." Jinri mengubah nada bicaranya menjadi sedikit lebih sendu.
"Apa keuntunganku jika aku membatalkan pernikahan kita? Lalu bagaimana dengan hutangmu, hm? Kau bahkan tak sang—"
"Aku sanggup!"
"Jangan terlalu memaksakan diri begitu." Min Ho mengajaknya ke ruang tengah. Mereka duduk dalam jarak yang sedikit lebih jauh satu sama lain.
"Aku akan bayar sedikit demi sedikit. Sampai lunas." ucap Jinri, berusaha meyakinkan pria yang ada bersamanya saat ini.
"Kalau kuberi batasan waktu? Bagaimana?"
"Min Ho kumohon. Kau tahu hidupku sudah cukup sulit. Kau bahkan ta—"
"Dan seharusnya kau tidak lari dariku, Nona Lee Jinri." Min Ho menatap Jinri dengan tajam. Kalau boleh jujur, Min Ho sungguh merindukan Jinri. Dan selama dia kehilangan jejak Jinri, dia berusaha berpikir setengah mati agar Jinri tetap berada disampingnya.
"Tentang omong kosongmu mengenai cinta pertama itu, apa maksudnya?" Jinri mengalihkan pembicaraan sejenak. Masih ada hal yang perlu dipertanyakan kepada Min Ho.
"Kau benar - benar melupakanku, ya?"
Jinri mengangguk.
"13 tahun yang lalu. Kau melakukan taruhan dengan tetangga sekaligus teman baikmu. Kalian bersaing nilai ulangan matematika. Dan ternyata nilaimu lebih rendah darinya. Lalu kau berjanji akan men-traktir ice cream dan dari situ kalian semakin dekat." Min Ho menjelaskan dengan mata menengadah ke langit. Mencoba mengingat lebih detail kejadian yang sudah belasan tahun yang lalu.
Jinri bungkam dan menggeleng - gelengkan kepalanya pelan. Masih mencoba mengingat hal yang diceritakan Min Ho, tapi hasilnya nihil.
"Tetangga sekaligus teman baikmu itu aku, Jinri-ah." Min Ho menghela nafasnya. Kenapa gadis ini sama sekali tidak mengingatnya?
Jinri diam. Masih bergelut dengan pikirannya yang mulai berjalan mundur. Mengorek memori - memori lama yang ada di otaknya.
"David?" Jinri menggumamkan sebuah nama yang tak terdengar asing di telinga Min Ho.
"Ya. Ini aku."
"Tidak mungkin. Mengapa ka—"
"Aku mengalami kecelakaan yang cukup parah. Tepatnya pada 7 tahun yang lalu. Aku kritis dan dokter mengatakan bahwa mereka harus melakukan bedah plastik di bagian wajah hingga leherku. Resikonya adalah, wajahku akan sedikit berbeda dari yang asli. Orang tuaku menyetujui nya asal aku selamat. Dan, ini hasilnya. Bukankah aku terlihat sedikit lebih tampan?"
"Tapi sungguh, wajahmu berubah banyak, tidak sedikit. Aku bahkan tidak bisa mengenalimu saat kau untuk yang kali pertama datang ke tempat kerjaku."
"Seharusnya hati mu lebih peka."
Jinri berdecak heran. Bagaimana bisa wajah teman baiknya 13 tahun yang lalu bisa jauh berbeda begini?
"David atau Min Ho? Oh sungguh, kau membuatku pusing."
"Bukankah kau sudah kuberitahu bahwa aku sempat tinggal di California? Namaku Lee Min Ho. Tapi orangtuaku serta orang - orang disana lebih senang memanggilku dengan nama David. David Lee,"
Jinri diam. Dia masih belum bisa mencerna dengan baik apa yang Min Ho bicarakan. Dia sungguh tidak mengerti kenapa pria ini tiba - tiba datang kembali di kehidupannya.
"Aku merindukanmu, Lee Jinri." Min Ho menatap sendu ke arah Jinri. Dan Jinri membalas tatapan itu dengan tatapan bingung.
"Jadi ini, alasanmu ingin sekali menikahi aku?"
"Apakah aku terlihat sangat ingin menikahimu?" Sahut Min Ho, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kesal.
"Kau sangat egois." Jinri berdiri, berniat meninggalkan Min Ho saat ini. Jinri merutuki dirinya sendiri karena pertanyaan bodohnya tentang cinta pertama Min Ho. Seharusnya dia tidak menanyakan hal itu karena itu membuat suasana semakin canggung.
"Kau kira selama 13 tahun kita tidak bertemu, siapa yang ada dipikiranku selain dirimu? Bahkan tak jarang terbesit dipikiranku untuk membunuh orang tuaku sendiri karena mereka yang memutuskan pindah dari rumah itu, dan itu jelas membuatku gila,"
Jinri menghentikan langkahnya. Separah itu? Jinri masih tidak sepenuhnya mengerti apa maksud perkataan Min Ho sedari awal.
"Sepertinya perasaan yang aku pertahankan selama 13 tahun ini akan berakhir sia - sia." Lanjut Min Ho. Matanya memerah. Kumohon jangan! Min Ho tidak boleh terlihat lemah dihadapan Jinri. Ini akan semakin membuatnya terlihat menyedihkan.
"Min Ho, aku—"
"Terlebih lagi saat aku mengetahui bahwa kau sudah bersama pria lain. Bertahan bersamanya cukup lama. Dan sialnya, pria itu terlihat sangat mencintaimu. Itu sungguh membuat dadaku sesak. Seharusnya kau tahu itu."
"Kau terlambat."
"Bahkan aku tidak menduga jika akhirnya akan seperti ini."
Jinri diam. Tangannya mulai mengepal kuat dan hatinya bergetar. Sungguh, perkataan Min Ho tadi sanggup membuat hatinya sedikit merasa bersalah. Tunggu... Merasa bersalah? Tapi... Untuk apa?
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Jinri-ah? Ini sungguh membuatku terlihat seperti pria yang sangat tolol."
Jinri membalikkan tubuhnya, ia menatap mata bening Min Ho.
"Lepaskan aku. Hanya itu."
"Tapi tidak se—"
"Min Ho-ssi, aku sangat mencintai Woo Bin. Banyak hal yang ia lakukan demi aku. Apalagi saat kau mulai muncul kembali di hidupku. Ki—"
"Lalu pada intinya kau menolak perasaan 13 tahun ku ini dan memilih bersamanya, begitu?"
"Maaf."
Mereka bungkam. Sibuk dengan pikirannya masing - masing. Terutama Min Ho, perkataan Jinri sungguh berhasil menghujam tepat dihatinya. Rasanya, sakit.
"Baiklah. Aku melepasmu." Min Ho menghela nafas nya kasar. Kalimat itu tiba - tiba muncul keluar dari bibirnya.
"A-apa?"
"Haruskah ku ulang perkataan yang menyakitkan itu dua kali, Jinri-ah?" Min Ho memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya dengan wajah sedikit kesal. Seperti biasa, bersikap gentleman.
"Lalu, hutangku?"
"Sudah kuanggap lunas."
Wajah bingung Jinri seketika berubah menjadi senyuman dan matanya langsung berbinar. Dia senang. Usahanya kali ini sangat membuahkan hasil. Walau ia tau, Min Ho pasti tidak akan mudah menerima semua ini. Oke, pada akhirnya Jinri lah yang menang. Karena pada dasarnya, Min Ho tidak bisa berbuat banyak. Posisinya sendiri adalah pengganggu. Dan itu sangat menyulitkan dirinya sendiri. Dan dia juga bukan tipe orang yang sangat teramat jahat. Min Ho masih punya hati.
"Min Ho, kemarilah." Jinri mengarahkan tangan kanannya ke arah Min Ho, menggerak - gerakkan beberapa jarinya seakan meminta Min Ho untuk menghampirinya.
Min Ho bingung, dia memilih untuk menurut dan pelan - pelan dia melangkah mendekat ke arah Jinri. Sampai akhirnya kini mereka berdua sudah berhadapan, dengan jarak yang lumayan dekat.
"Apa aku menyakitimu?" Tanya Jinri. Min Ho terkekeh lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain sejenak.
"Itu ti—"
"Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu hal kepadaku?" Tanya Jinri, sedikit meng-intimidasi.
"Lalu kau ingin aku melakukan apa?"
"Peluk aku." Jinri tersenyum, membuka kedua tangannya lebar - lebar. Min Ho sungguh dibuat heran dengan sikap pujaan hatinya ini. Bukankah tidak lama sebelum hal ini terjadi, Jinri masih bersikap dingin dan menuntut?
"Min Ho-ah, apa kau ti—"
Grep.
Min Ho menarik Jinri ke dalam pelukannya dan itu membuat perkataan Jinri terpotong. Ini sungguh melegakan. Sesak dan sakit yang ada di dalam dada Min Ho perlahan - lahan berkurang. Min Ho memejamkan matanya, mencoba merasakan hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya dan sedikit mempererat pelukannya. Sentuhan gadis ini sungguh ajaib bagi pria itu.
Jinri mulai membalas pelukan pria itu. Tidak erat, hanya bermaksud menenangkan. Ia tau bahwa keputusan Min Ho untuk melepaskan Jinri adalah keputusan yang akan mengacaukan hatinya karena ternyata dia lebih memilih untuk mengikuti logikanya. Dan itu pilihan yang bagus.
"Jaga dirimu baik - baik." Ucap Min Ho yang masih belum ingin melepas pelukannya.
"Jangan menghindariku dan tetaplah disini. Jika kau sudah dapatkan gadis yang terbaik, segera beritahu aku. Mengerti?"
Mereka tertawa, masih dalam posisi saling berpelukan. Ini sungguh keputusan yang baik.
"Berbahagialah bersamanya. Karena kebahagiaanmu, adalah kebahagiaanku juga."
***
Tuhan tahu mana yang terbaik. Ya, kalimat itu memang sungguh benar adanya. Kisah si gadis yang menyedihkan itu ternyata berakhir dengan cukup bagus. Lee Jinri, yang awalnya merasa bahwa dirinya hanyalah benalu dikehidupan Woo Bin—kekasihnya sendiri, kini mulai mengerti mengapa dia harus melewati masa - masa sulit yang sungguh membelenggu pikirannya.
"Aku bahkan sudah memikirkan hal ini pasti akan terjadi." Suara yang tak asing ditelinga Jinri kini mulai mendekat ke arahnya. Berdiri disampingnya sembari melihat ke arah hamparan pemandangan yang cukup indah.
"Aku tidak pernah berpikir bahwa akhirnya akan begini." Jinri tersenyum, menunduk sejenak, masih belum sangat percaya bahwa akhirnya hubungan mereka bebas dari tuntutan apapun.
"Kau selalu berpikir hal - hal yang buruk jika sudah merasa kesal atau putus asa. Jangan begitu, ya. Itu tidak baik." Woo Bin memandang Jinri sejenak, sedangkan gadis yang dipandangnya lagi - lagi tersenyum. Saat ini, mereka sedang berada di Namsan Tower. Bermaksud jalan - jalan dan mencari udara segar.
"Bukankah itu lebih baik daripada menjadi orang yang keras kepala nya keterlaluan?" Balas Jinri, lalu menoleh ke arah Woo Bin dan mengerlingkan matanya.
Woo Bin mendengus. Ada benarnya juga. Jika dipikir - pikir, selama ini Woo Bin lah yang terlihat sangat antusias dan terkesan sangat mempertahankan pendiriannya dibanding Jinri yang sangat lemah dan mudah goyah.
"Lalu apalagi?" Ucap Jinri, dia memasukkan kedua tangannya kedalam saku mantelnya. Udara disini terasa sangat dingin bahkan sudah menusuk hingga ke tulang.
Perlu kalian tahu, bahwa Ibu—atau lebih tepatnya orang tua Woo Bin akhirnya menyetujui hubungan mereka. Usaha Jinri dan Woo Bin untuk meluluhkan hati Nyonya Kim benar - benar berhasil. Itu membuatnya sadar bahwa tidak seharusnya seorang ibu mengekang keinginan anaknya untuk bersama dengan gadis pilihannya yang sangat dia cintai. Min Ho? Aish, pria itu. Dia mengatakan bahwa awalnya memang terasa sakit, sakit sekali. Tapi setelah itu dia mengerti. Melihat Jinri tersenyum itu sungguh melegakan hatinya daripada membuatnya menangis dan bersedih setiap hari.
"Sebentar." Woo Bin memasukkan tangannya ke dalam mantel. Seperti merogoh isi saku, mencari sesuatu yang akan ia tunjukkan pada Jinri.
Kini mereka berhadapan. Jinri masih diam dan menunggu apalagi yang akan dilakukan dengan pria keras kepala yang ada dihadapannya ini.
"Lee Jinri, kumohon. Menikahlah denganku." Woo Bin mengeluarkan cincin dari sakunya. Terlihat sederhana dengan hanya berhiaskan satu permata kecil yang anggun.
Jinri tersenyum menatap Woo Bin. Pria yang ada dihadapannya ini sungguh berpengaruh besar pada kehidupannya.
"Cincin itu kurang menarik. Aku tidak suka."
"Hei yang benar saja!" Woo Bin berdecak kesal. Dia bermaksud mengajak Jinri untuk bicara serius, tetapi tanggapan Jinri sungguh menyebalkan.
"Lalu aku harus menjawab apa?" Tanya Jinri seolah pura - pura bodoh. Bermaksud untuk menggoda Woo Bin, tentunya.
"Kau bisa menjawabnya dengan 'baiklah, Kim Woo Bin. Kita akan bertemu di altar.' kalau tidak, bisa saja dengan 'Kurasa itu ide yang bagus. Aku mencintaimu, Kim Woo Bin.' atau begini—"
"Kau terlalu banyak bicara. Sungguh." Jinri mengecup bibir Woo Bin sekejap, lalu mengambil cincin yang masih dipegang Woo Bin dan langsung memakai cincin itu dijari tengahnya.
"Baiklah. Kelihatannya tidak buruk." Jinri berjalan pergi meninggalkan Woo Bin sembari melihat cincin yang sudah terpasang manis di jari tengahnya.
"YA! Lee Jinri!"
Finn.
Thor, ini bneran uda end?
BalasHapusKece abis ffnya..
Kalo minho ga bisa move on, mending sama aku aja sini.. Wkwk
Yodah segitu aja. Ditunggu ff selanjutnya author.
Keep writing 😊