Senin, 05 Januari 2015

Warm Hug [I]

Chapter 1

Cast:
■ Lee Jinri [OC]
■ Kim Woo Bin
■ Lee Min Ho

Genre: Romance

Writter: 찬'sbae

Length: Chapter

Rating: PG-18

***

Author's POV

"Dingin, hm?" Woo Bin meletakkan dagu nya pada bahu Jinri. Menghembuskan nafas dari hidungnya ke leher gadis itu. Sial! Itu sungguh memberi sensasi hangat dan membuat darah gadis itu berdesir. Mereka sedang ada di balkon sebuah apartment mewah. Milik Woo Bin, tentunya.
"Sedikit." Jinri memegang tangan Woo Bin yang melingkar di pinggangnya.
Woo Bin mempererat pelukannya hingga dada nya yang bidang bertemu dengan punggung Jinri. Dia sungguh tidak ingin gadisnya kedinginan. Walau tak bisa dipungkiri, dia juga benci dingin.
"Kalau begini, apa masih terasa dingin?" Woo Bin memastikan apa kah Jinri masih kedinginan atau tidak.
Jinri terkekeh. Kemudian menggeleng pelan. Woo Bin menarik kedua ujung bibirnya ke atas sehingga membentuk sebuah senyuman. Senyuman yang manis dan tulus.
"Aku mencintaimu, Lee Jinri."
"Aku tahu."
"Jawabanmu sungguh tidak memuaskan."
"Lalu aku harus jawab bagaimana?" Jinri tampak mengerutkan kedua alis mata nya. Bingung.
"Seharusnya yang lebih romantis."
"Baiklah,"
Jinri membalikkan tubuhnya, merengkuh leher Woo Bin. Mengecup bibirnya pelan.
"Aku mencintaimu, Idiot." Jinri tersenyum. Kembali memutar tubuhnya untuk melihat pemandangan kota Seoul di malam hari saat musim dingin pada ketinggian gedung apartement.
"Tingkahmu itu sungguh sulit untuk ditebak,"
Mereka tertawa. Kedua tangan Woo Bin tetap setia melingkar di pinggang Jinri.
"Suatu ketika, terlihat dingin. Beberapa saat setelahnya, terlihat hangat dan manis. Begitupun setiap hari. Sebenarnya kau ini keturunan apa? Jangan membuatku takut." Woo Bin mulai mengecup lembut leher gadisnya. Berhasil membuat Jinri mengerang pelan. Woo Bin tahu yang dikecupnya adalah titik sensitif gadis itu.
"Woo Bin, jangan meng— errgh."
"Oppa. Panggil aku oppa. Sudah berapa kali aku protes tentang hal ini?" Woo Bin mengendus leher gadisnya. Layaknya kucing yang kelaparan. Dengan rakus, dia menghirup aroma peach bubble gum dari tubuh gadis nya itu. Ya, aroma manis dan segar menyeruak di hidung Woo Bin. Dia sangat suka aroma itu. Selalu membuat dirinya terbelenggu oleh perasaan tenang dan nyaman.
"Kim Woo Bin, cukup—errrgh." Untuk kedua kalinya, Jinri mengerang. Berusaha mengontrol agar erangannya tidak terlalu keras.
"Tidak akan. Kubilang panggil aku—"
"Woo Bin oppa. Hentikan. Kumoh— aassh." Woo Bin menjilat dan mengigit pelan leher kekasihnya itu. Jinri sungguh tidak bisa berbuat banyak. Tangan yang melingkar dipinggangnya pun semakin erat.
"Gadis pintar."
Jinri melenguh lega. Cukup. Ia tidak ingin hilang kendali atas dirinya sendiri.
"That's not a good treatment, Woo Bin-ah."
Mereka terkekeh. Jinri menghela nafas, sedikit keras. Seperti sedang ingin melepaskan semua beban hidupnya beberapa detik yang lalu.
"Jangan pernah pergi dariku." Woo Bin kembali mengecup leher Jinri dengan tulus seakan memang gadis itu lah penyemangat hidupnya saat ini.
"Seharusnya aku yang bilang begitu." Jinri tertawa kecil. Dia menggenggam tangan Woo Bin yang sepertinya mulai kedinginan.
"Kau bisa saja jatuh ke pelukan Min Ho. Kapan pun. Dan aku pastikan hal itu tidak akan terjadi." Nada bicara Woo Bin mulai berbeda. Terdengar ada perasaan sedih yang ia rasakan. Jinri mengosongkan tatapannya. Dia lupa. Bahwa beban hidupnya masih ada. Masih membelenggu diri nya bahkan kekasihnya. Dia terjerat kontrak pernikahan demi melunasi hutang. Beberapa kali Woo Bin memaksa untuk melunasi hutang keluarga Jinri, tetapi gadis itu menolaknya. Dia tidak ingin merepotkan siapapun. Dia tidak ingin terlalu bergantung pada kekasihnya. Walau sebenarnya, tak banyak yang bisa ia lakukan.
"Aku tidak punya pilihan lain. Maafkan aku." Jinri menunduk. Berusaha menahan cairan bening keluar dari pelupuk matanya. Tidak! Dia tidak ingin menangis lagi. Sudah cukup dia memperlihatkan wajah buruknya kepada kekasihnya itu hampir tiap hari.
"Maka biarlah aku yang menanggungnya!"
"Ini urusanku. Urusan keluargaku. Aku tidak ingin kau ikut campur. Aku tidak ingin membuatmu re—"
"Sudah berapa kali aku bilang bahwa aku sungguh ingin melunasinya?! Ini sungguh membelenggu ku. Aku hanya ingin bersamamu, bukan yang lain. Apa kau tidak cukup mengerti?"
Kini mereka saling berhadapan. Woo Bin menatap Jinri dalam. Dia tersiksa. Mata Jinri sungguh memancarkan penderitaan. Seakan dia adalah salah satu alat untuk jaminan pelunasan hutang. Dan sialnya, itu memang benar adanya.
"Aku mengerti, Woo Bin-ah."
"Tidak. Kau sama sekali tidak mengerti. Aku ingin kau bersama ku. Menikah denganku. Aku tidak ingin Min Ho menggantikan posisiku. Sungguh."
"Woo Bin, apa kau tidak pernah mendengar istilah bahwa cinta tak harus memiliki?"
Woo Bin menarik tangan Jinri lalu menghapus jarak di antara bibir mereka. Woo Bin melumat bibir Jinri. Kasar dan penuh emosi. Jinri tidak membalasnya. Pertahanannya runtuh. Cairan bening sialan itu keluar dikedua pelupuk matanya. Woo Bin menggigit bibir bawah Jinri, membuat Jinri mengerang di sela - sela ciuman mereka. Woo Bin merengkuh leher Jinri, mengelus nya perlahan, membuat Jinri sedikit membuka mulutnya yang sedaritadi ia kunci dan mengeluarkan desahan menjijikkan. Ini sungguh diluar kendali!
Jinri berusaha mendorong tubuh Woo Bin. Tapi bagaimanapun, dia tidak bisa melawan kekuatan tubuh Woo Bin. Hingga akhirnya Jinri memukul dada bidang Woo Bin. Sekuat tenaga ia coba pukul dada Woo Bin berulang kali, berharap kekasihnya ini akan menghentikan pelampiasan emosinya. Air mata Jinri semakin deras. Woo Bin merengkuh pipi gadisnya itu, menghapus air mata nya dengan kedua ibu jarinya tapi tetap berlaku ganas terhadap bibirnya. Untuk saat ini, Woo Bin hanya ingin membuat Jinri berhenti merasakan sakit dibagian dada dan pikirannya. Dia ingin memfokuskan rasa sakit itu pada bibirnya. Sengaja melukai bibir itu, memberi rasa perih dan sakit pada bibirnya. Hanya bibirnya. Kejam memang, tapi ia merasa bahwa hanya hal inilah yang bisa ia lakukan untuk gadisnya.
Hingga akhirnya, Woo Bin menghentikan perlakuan bringasnya. Dia tidak sanggup melihat kekasihnya itu menangis terlalu lama. Dia tidak peduli dengan rasa sakit karena pukulan tangan gadisnya yang kuat dan bertubi - tubi itu.
"Kau menyakitiku." Jinri terisak dan tetap memukul dada bidang Woo Bin.
Woo Bin menarik tangan Jinri, memeluk erat tubuh gadis pujaan hatinya.
"Maaf."
"Bukankah kau pernah bilang bahwa kau tidak akan pernah menyakitiku?"
"Lalu kau mau aku diam saja waktu melihat hatimu sakit karena kontrak bodoh itu, hm?"
"Bibirku perih, Woo Bin."
"Hatiku lebih perih, Jinri."
"Jadi itu alasan kau melukai ku?"
"Lebih baik aku yang melukaimu daripada laki - laki brengsek itu. Sungguh."
"Berhenti bersikap seperti ini. Kau kekanakan."
Woo Bin bungkam. Dia tidak tau harus bagaimana lagi membalas ucapan kekasihnya. Mendengar suara parau gadis itu semakin membuat dada nya sesak. Gadis itu sedang terluka dan butuh bantuan. Tapi Woo Bin tidak bisa melakukan apapun. Gadis itu menyuruhnya diam karena itu bukan urusan Woo Bin dan dia tak ingin merepotkan siapapun. Bekerja pun tidak akan cukup untuk membayar hutang - hutang keluarganya. Hanya diberi waktu kurun dua minggu. Bagaimana bisa? Jinri sudah mencoba mencari pinjaman kesana kemari, tetapi semua menolak. Dengan alasan yang sama. Bahwa mereka semua takut Jinri tidak bisa menggantikan uang yang dipinjamnya. Atau mungkin Jinri tidak berhasil menemukan orang yang tepat untuk dipinjam uangnya. Pinjaman bank? Oh ayolah, tentu saja tidak mungkin. Dulu, keluarga Jinri tidak se-mengenaskan ini. Jinri terlahir sebagai putri tunggal dari pemilik saham terbesar nomor enam di Korea. Tapi semua itu kandas selang beberapa menit. Hanya karena kegagalan Tuan Lee, Ayah Lee Jinri untuk mempertahankan kestabilan saham - sahamnya. Sehingga semua apapun yang awalnya menjadi milik mereka, hilang tersita oleh pihak bank. Hanya tersisa beberapa helai baju dan koper, kurasa pihak bank masih bersikap sedikit manusiawi. Ayah Lee Jinri jatuh sakit. Cuci darah seminggu dua kali harus rutin dilakukan. Jika tidak, bisa dipastikan nyawa nya tidak akan aman lagi. Lalu, dari mana Jinri mendapatkan uang untuk biaya perawatan rumah sakit ayah nya dan biaya sewa rumah untuk tempat tinggalnya bersama sang ibu? Ya. Jinri bertemu dengan seorang pria kaya raya dan mapan di usia yang masih bisa dibilang muda, Lee Min Ho. Berawal dari bertemu ditempat kerja Jinri. Dia bekerja sebagai pelayan kafe dan Min Ho sebagai pelanggan setia, mereka semakin dekat hingga akhirnya Jinri berani menceritakan apa yang terjadi pada keluarganya. Dan Min Ho pun melakukan penawaran dengan memberikan pinjaman dana berapapun untuk membiayai keluarganya yang sedang kacau. Sekali lagi kutekankan, berapapun. Tanpa pikir panjang, Jinri menerimanya karena dia pun terdesak oleh keadaan ayahnya yang tidak kian membaik. Seperti perjanjian awal. Itu dana pinjaman, bukan dana sukarela. Jadi, pihak yang meminjamkan dana meminta kembali dana yang sudah ia keluarkan untuk membiayai keluarga Tuan Lee. Bukankah itu sudah pantas disebut hutang?
"Kuberi waktu dua minggu dari hari ini. Lunasi hutang - hutangmu. Kalau kau tak sanggup, menikahlah denganku."
"Apa kau sudah gila? Perpanjang waktunya, kumohon."
"Tidak ada penawaran, Nona Lee."
Jinri ingin melompat dari gedung di kota Seoul yang paling tinggi. Sungguh. Ini sungguh membuatnya tertekan. Melunasi hutang yang jumlahnya tidak sedikit dalam kurun waktu hanya dua minggu? Menikah dengan pria yang jelas - jelas tidak dia cintai? Apa saat ini dia sedang berada di dalam drama.
"Kurasa urusan percintaan kita tidak akan mudah." Woo Bin tersenyum, lalu mencium puncak kepala kekasihnya.

***

Seorang gadis tampak berdiri lemah didepan gedung apartement yang sungguh kelewat mewah. Bukan, itu bukan gedung apartment tempat Woo Bin tinggal. Itu milik Min Ho. Jinri berada ditempat itu bukan karena kehendaknya. Beberapa menit yang lalu, dia masih berada ditempat dia bekerja. Melayani pelanggan dengan senyum manisnya. Senyum yang mau tak mau harus tetap ada sepanjang hari. Tak peduli apa kondisi yang sebenarnya terjadi pada gadis itu. Dia mendapat pesan singkat, dari teman dekatnya yang kaya raya itu. Yang menjebaknya dengan uang.
"Datanglah ke apartment ku. Kita perlu bicara sekarang. Penting."
Kira - kira seperti itu isi pesan nya. Jinri menurut. Dia benar - benar sudah tidak punya pilihan lain. Ibu dan ayah nya pun menyetujui pernikahan yang sebenarnya tidak diinginkan Jinri. Permasalahannya hanya satu. Dia harus melepas Woo Bin. Pria yang sangat dia cintai, dan selama ini ada disampingnya dalam keadaan apapun.
"Ayo masuk," Tangan kekar melingkar tiba - tiba di pundak Lee Jinri. Ya, tentu saja Lee Min Ho. Memangnya siapa lagi?
Mereka berjalan berdua dengan suasana senyap. Tidak ada yang bicara. Jinri memilih menunduk diam dan tak peduli dengan tangan pria itu yang sedang melingkar di pundaknya.
Terdengar bunyi alarm tanda pintu apartment telah terbuka. Ya. Mereka telah sampai. Ruangan 654, lantai 43.
"Besar sekali." Celetuk Jinri saat sudah mulai memasuki apartment itu. Min Ho terkekeh.
"Ini belum seberapa. Aku bisa berikan yang lebih dari ini," Jinri terkejut lalu menoleh ke sumber suara yang berada disampingnya. Pria itu berdiri dengan meletakkan kedua tangannya disaku celana hitamnya. Menjadi semakin terlihat.... Manly?
"Tapi nanti. Jika kau sudah resmi menjadi istriku." Min Ho menoleh ke arah gadis itu berdiri sehingga mata mereka bertemu. Min Ho tersenyum dan mengerlingkan matanya. Jinri tidak membalas dan lebih memilih mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Aku mandi dulu. Berkelilinglah di apartmentku ini jika kau mau." Min Ho melengos pergi dari hadapan gadis itu.
Jinri masih beku ditempat. Seakan ini mimpi. Tak bisa dipungkiri bahwa dia ingin pergi dari tempat ini. Dia takut bahwa pria itu akan berbuat yang tidak - tidak terhadapnya.
"Tidak! Itu berlebihan." Jinri meyakinkan dirinya bahwa hal itu tidak akan terjadi. Dia tahu, Min Ho pria yang suka menggunakan otaknya. Jadi, dia tidak akan mungkin mencelakai Jinri. Semoga saja.
Jinri mulai menelusuri apartment Min Ho. Melihat - lihat foto yang ada di dalam pigora. Meja dan dinding menjadi fokus utamanya saat ini. Dia terpaku dengan satu foto yang berada di meja tempat porselen - porselen mahal itu. Foto anak kecil laki - laki yang sangat lucu. Mungkin umurnya sekitar 6 tahun. Matanya sipit, senyumnya manis. Dan Jinri yakin bahwa itu adalah foto masa kecil Min Ho. Tak jauh berbeda dengan sekarang. Hanya saja mata nya waktu dia masih kecil dulu lebih sipit dibanding sekarang. Senyumannya masih—errr manis hingga saat ini. Oh ayolah. Apa tidak boleh Jinri mengagumi lekukan wajah Min Ho? Sungguh, dia tak ingin munafik. Pria itu rupawan. Dan kuingatkan lagi. Gadis itu hanya mengagumi. Belum sampai tahap menyukai apalagi mencintai. Dan Jinri berharap tahapan itu tidak akan terjadi. Tidak boleh!
Jinri bosan. Dia sudah tidak lagi tertarik dengan foto - foto itu. Min Ho pun belum muncul di hadapannya. Aish, pria itu mandinya lama sekali.
Mata Jinri kembali mencari apapun yang membuatnya tertarik. Dan, balkon. Jinri tertarik untuk menuju ke ruangan itu. Dan kebetulan pintu balkon terbuka, sehingga dia bisa melihat keadaan balkon di apartment super mewah itu.
"Bodoh. Kau bisa mati kedinginan disini." Sepasang tangan telah menyampirkan jaket yang lumayan besar untuk menutupi tubuh Jinri dari belakang. Jinri sedikit tersentak.
"Kau berlebihan." Jinri mengeratkan jaket yang telah dipakaikan kepadanya. Tak bisa dipungkiri bahwa dia memang sedang kedinginan.
Mereka diam. Sibuk dengan pikirannya masing - masing. Jinri merasakan aroma musky menyeruak ke dalam hidungnya. Pria yang ada dibelakangnya ini sungguh dekat sekali dengan kata sempurna.
"Bolehkah aku bertanya?" Jinri memilih untuk memecah keheningan. Sepertinya dia harus bertanya kepada Min Ho tentang pernikahan mereka.
'Hmm, tanya saja."
"Kenapa kau harus membantuku, jika akhirnya kau pun tahu aku tidak sanggup menggantikan apa yang telah kau berikan?"
Suasana kembali hening. Min Ho belum memberikan respon atas pertanyaan Jinri.
"Karena hanya dengan cara ini lah, aku bisa memilikimu,"
Jinri merasakan sesuatu yang hangat menerpa kulit lehernya. Sepasang tangan pun mulai melingkar di pinggangnya. Oh tidak! Min Ho melakukan hal yang sama dengan Woo Bin beberapa hari yang lalu. Ada apa ini? Kenapa hangat yang Jinri rasakan sangat mendominasi tubuhnya saat ini?
Dan entah setan apa yang merasuki Jinri, dia tidak menolak perlakuan Min Ho. Sama sekali tidak.
"Apa kau keberatan dengan pernikahan ini?" Min Ho balik bertanya.
"Keberatan atau tidak, bukankah akhirnya aku harus tetap melewati pernikahan ini?"
Min Ho bungkam. Sebenarnya bukan ini yang dia mau. Memaksa gadis pujaan hatinya untuk menikah dengannya karena alasan 'tidak sanggup membayar hutang - hutangnya'. Bukankah ini artinya, Min Ho disini adalah tokoh jahat? Dan Jinri adalah pihak yang tertindas?
"Aku tidak mengerti. Apa kau telah mengenalku sebelum pertemuan kita di tempat kerjaku?" Jinri memutar tubuhnya sehingga berhadapan dengan pria rupawan itu.
Tangan yang melingkar di pinggang Jinri tidak mau beranjak kemana pun. Jadi bisa dipastikan jarak antar tubuh mereka hampir semuanya hilang.
"Kurasa begitu." Min Ho tersenyum. Jinri bergidik. Dia mencoba melepas tangan Min Ho yang ada di pinggangnya.
"Ini sungguh tidak membuatku nyaman. Lepaskan." Jinri mulai mengeluh tentang posisi mereka. Bagaimanapun Jinri masih bersikap khawatir. Cukup khawatir.
"Begini saja sudah merasa tidak nyaman, lalu bagaimana nanti jika aku melakukan hal yang lebih dari ini?"
"Cih," Jinri mencoba melepas tangan Min Ho dari pinggangnya. Min Ho mengalah.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Jinri menjauh dan memberi jarak antara dia dan pria itu.
"Hmm, tidak ada."
"Jangan konyol."
"Sungguh. Aku memintamu kesini, karena aku merindukanmu."
Jinri diam. Kenapa Min Ho terlihat sudah sangat mengenal nya? Dan kenapa dia merasa aneh dengan hatinya?
"Kita sudah bertemu dan itu berarti kau sudah tidak merindukanku. Jadi—"
"Kumohon. Tetaplah disini."
"Aku harus kembali bekerja, Min Ho."
"Hutangmu sudah ku anggap lunas, lalu untuk apa kau masih bekerja keras seperti ini?" Min Ho mulai kesal. Dia takut jika gadis 'pujaan hatinya' itu terlalu lelah apalagi sampai jatuh sakit. Dia sangat takut jika Jinri ada dalam hal - hal yang buruk.
"Aku harus tetap bekerja. Ayahku masih harus rutin cuci darah. Ibuku membutuhkan uang untuk bertahan hidup bersamaku. Apa kau kira melunasi hutang saja cukup, hm?"
"Baiklah. Katakan, berapa yang kau inginkan?" Min Ho mulai meletakkan kedua tangannya di saku celana pendeknya. Dengan wajah tanpa dosa, dia menanyakan hal itu pada Jinri.
Plak.
Jinri merasa direndahkan. Apa keluarganya se-miskin itu sehingga pria yang ada dihadapannya menanyakan hal yang sungguh membuatnya marah?
"Aku tidak serendah itu," Jinri mulai menangis. Tapi tetap berusaha terlihat kuat. Tangan kanannya mengepal sungguh kuat.
"Aku pergi." Jinri melengos pergi. Min Ho diam ditempat sembari masih merasakan pukulan kasar di pipi kanannya dari telapak tangan gadisnya. Bukan. Dia tidak merasa sakit karena tangan Jinri. Dia merasa bahwa pukulan Jinri sangat mencerminkan bagaimana perasaannya sekarang.
"Seharusnya kau sudah mengerti."

***

"Maksud eomma mengundang Jinri kemari, adalah untuk memberitahukan sesuatu kepadanya agar tidak terlambat." Wanita paruh baya yang terlihat arogan tampak membuat suasana menjadi canggung. Gadis dengan dress biru tosca selutut serta riasan wajah yang sangat sederhana itupun menghentikan aktivitasnya—menyendokkan soup ikan kedalam mulutnya dan menunduk. Ya, itu si gadis yang menyedihkan. Lee Jinri. Dihadapannya, terlihat pria yang sangat tegap dan tampan dengan tuxedo hitam melekat sempurna membentuk lekuk tubuhnya, Woo Bin. Dia tampaknya sedikit terkejut.
"Memberitahukan apa, eomma?" Woo Bin penasaran dengan ucapan ibunya. Sebelum makan malam ini berlangsung, ibunya tidak membicarakan hal apapun yang harus Jinri tahu.
"Apa harus sekarang?" Pria paruh baya kini terlihat ikut campur dalam pembicaraan yang belum ada kejelasan ini. Ya, itu ayah Woo Bin. Mereka semua tengah berada dalam acara makan malam keluarga. Dengan seorang tamu yang cukup intim, Jinri.
"Woo Bin akan bertunangan."
Jinri tersentak. Dia kini sungguh terkejut setengah mati. Bertunangan?
"Eomma, apa yang—"
"Diamlah. Eomma belum selesai bicara."
Jinri tetap menunduk dan tak berani mengangkat wajahnya saat ini. Orang tua Woo Bin memang tidak pernah menyetujui hubungan anak semata wayangnya dengan Jinri. Awalnya, mereka menyetujui karena melihat status Jinri sebagai anak salah satu pemegang saham terbesar di Korea. Tetapi setelah apa yang terjadi pada keluarga Jinri, pikiran mereka pun berubah. Mereka tak mau Woo Bin memilih Jinri sebagai istrinya nanti. Itu akan merusak status sosialnya dihadapan orang - orang. Bagaimanapun, orang tua Woo Bin merupakan keluarga yang terpandang.
"Aku sudah memilih gadis yang sangat pantas untuknya. Dan sayang sekali, bukan kau orang yang kupilih, Jinri." Nyonya Kim tersenyum puas. Dia memang sangat ingin menghancurkan hubungan anaknya dengan putri pemegang saham yang telah bangkrut itu.
"Apa yang eomma bicarakan?!" Woo Bin meletakkan sendok dengan kasar. Ini sungguh diluar dugaan. Pembicaraan ini tidak direncanakan sebelumnya.
Mata Jinri memanas. Dia sungguh ingin berteriak sekarang. Woo Bin? Akan bertunangan dengan gadis lain?
"Permisi." Jinri tidak bisa menahan rasa sakit dibagian dadanya. Dia segera berdiri mengambil tas lalu membungkuk sebentar, kemudian melengos pergi.
"Jinri!" Woo Bin mengejar gadisnya.
Sedangkan Nyonya dan Tuan Kim tetap duduk dan terlihat tenang. Mereka yakin bahwa ini adalah satu - satunya jalan agar anaknya dapat terpisahkan oleh gadis malang itu.

"Aku minta maaf atas—"
"Ya. Aku mengerti."
Hening. Jinri berusaha setengah mati menahan isakannya agar tidak keluar dari mulutnya.
"Jangan menangis. Akhir - akhir ini kau sering sekali membuang air matamu." Woo Bin mengangkat dagu Jinri. Melihat cairan bening yang mengalir deras dari pelupuk matanya.
Jinri memeluk Woo Bin. Merasakan hangatnya pelukan pria yang akan bertunangan dengan gadis yang lebih pantas daripada dirinya.
Woo Bin membalas pelukan Jinri erat. Seolah - olah dia tak ingin melepas gadisnya itu.
"Jika memang itu yang terbaik, tak apa." Jinri melepas pelukannya. Menatap kedua bola mata Woo Bin yang sendu. Mereka berdua memiliki kisah cinta yang menyedihkan.
"Sampai kapanpun, aku hanya ingin bersamamu." Woo Bin menepis pernyataan Jinri yang terdengar pasrah tak mau melawan.
"Jangan egois."
"Cinta butuh rasa ego. Kau pikir selama ini apa? Aku berjuang untuk kita! Aku tidak—"
"Tapi kini sia - sia, bukan?"
Woo Bin membuang wajah sejenak. Matanya merah menahan cairan bening yang akan keluar dari pelupuk matanya.
"Kita tidak bisa berbuat banyak. Kau akan bertunangan bahkan mungkin menikah dengan gadis pilihan ahjumma, lalu aku akan menikah dengan Min Ho. Kita akan hidup—"
"TIDAK!"
"Woo Bin-ah."
"Aku sangat mencintaimu, Jinri-ah."
"Untuk sekarang cinta saja tak cukup. Kumohon, bersikaplah seperti dulu. Bukankah dulu kau sangat dingin dan angkuh? Ayo lakukan itu! Jangan tenggelam terlalu jauh seperti ini karena perasaanmu." Jinri berusaha tersenyum walau ia tau itu sakit.
"Kau yang mengubahku menjadi hangat dan luluh seperti ini. Lalu kau pula yang memintaku untuk kembali menjadi seorang Woo Bin yang dingin dan menyedihkan?" Woo Bin tampak depresi. Dia sungguh tidak ingin kehilangan.
"Karena itu satu - satunya cara, agar kau bisa menerima semuanya."
"Katakan. Apa kau sudah tidak lagi mencintaiku?"
Jinri diam. Dia enggan menjawab. Untuk saat ini, dia akan serba salah jika menjawab pertanyaan yang mematikan itu.
"Ya. Aku tidak lagi mencintaimu. Jadi mulai sekarang, lupakan aku. Lupakan tentang kita."
Jinri membalikkan tubuhnya lalu berjalan sempoyongan. Dia tidak ingin Woo Bin melihatnya kembali menangis. Itu akan sangat menyiksa Woo Bin.
"Aku tahu kau bohong, Jinri."

***

"Oh lihatlah. Anak eomma ini cantik sekali." Seorang wanita paruh baya terlihat sedang memuji gadis bergaun putih yang ada dihadapannya. Polesan di wajah gaids itu sangat sederhana. Gaunnya sangat anggun dan terlihat mewah. Ya, itu Lee Jinri.
Hari ini adalah hari pernikahannya. Dengan sang pengusaha muda tentunya, Lee Min Ho.
"Terima kasih eomma. Eomma, bisakah kau tinggalkan aku sendiri sebentar? Aku perlu waktu untuk menyiapkan diri." Jinri tersenyum. Dia memang sangat memerlukan waktu untuk sendiri. Sungguh. Rasanya dia ingin mati sekarang. Mengingat sebentar lagi dia akan menjadi istri dari seorang pria yang sama sekali tidak ia cintai. Pergi? Untuk apa? Toh juga pria yang dia cintai sekarang sudah dijodohkan dengan gadis lain. Lalu, harus bagaimana selain menerima apa yang akan terjadi setelah ini? Tidak ada. Melepas Woo Bin, dan menerima Min Ho itu bukan keputusan yang dia inginkan. Justru yang ia inginkan adalah sebaliknya. Tapi kutekankan sekali lagi, lalu sekarang Jinri bisa apa?
"Kau tampak cantik sekali. Sungguh." Suara berat dan tak asing berhasil membuat Jinri sedikit terkejut. Jinri sedang berada di kamar khusus pengantin wanita, duduk didepan meja rias dan melamun disana. Tapi lamunannya buyar saat pria itu datang.
"Min Ho? Bukankah kau—"
"Aku ini sudah tampan. Jadi untuk apa berdandan lama - lama?"
"Aish."
Min Ho terkekeh. Jinri diam dan tatapannya kosong. Yang ada dipikirannya hanya Woo Bin, Woo Bin, dan Woo Bin.
"Apa - apaan ini? Beberapa menit lagi kau akan sah jadi istriku tapi yang masih ada dipikiranmu adalah pria pengecut itu? Oh ayolah." Min Ho memasang wajah yang mulai kesal. Dia sungguh tidak mengerti kenapa gadis dihadapannya ini selalu memikirkan Woo Bin.
"Namanya Kim Woo Bin. Bukan pria pengecut." Jinri masih berusaha membela. Oh tidak - tidak. Maksudku, membenarkan.
"Ya ya ya. Kim Woo Bin si pria pengecut itu."
"Dia bukan pe—"
"Kalau dia bukan pria pengecut, kenapa dia malah melepasmu untuk menikah denganku? Itu konyol."
Skak. Jinri tidak bisa membantah. Bukankah apa yang dikatakan Min Ho benar adanya? Kalau Woo Bin memang mencintai Jinri, seharusnya dia tidak melepaskan gadisnya. Apapun yang terjadi. Sejak peristiwa makan malam keluarga Kim dan disertai pemberitahuan yang membuat hati Jinri sakit, Woo Bin benar - benar tidak menghubunginya. Dan mereka tidak pernah bertemu lagi. Apa mungkin Woo Bin sudah tidak peduli dengan Jinri? Tapi bukankah itu yang Jinri inginkan? Berharap Woo Bin bisa melupakannya, lalu dia bisa hidup tenang—bersama Min Ho. Tapi ini sungguh diluar kendali! Bahkan sekarang perasaan Jinri yang tersiksa.
"Aku akan bertemu dengan ibu dan ayahmu. Sampai jumpa di altar, calon istriku." Min Ho tersenyum, mengelus puncak kepala Jinri pelan lalu melengos pergi. Meninggalkan Jinri yang masih larut dalam pikirannya yang berkecamuk. Dia ingin menangis dan berteriak. Tapi tidak bisa. Hati nya mengatakan bahwa hari ini tidak boleh ada tangisan. Karena bagaimanapun juga, ini adalah hari terpenting dalam hidupnya.
Meskipun sebenarnya hari ini adalah hari yang tidak diinginkan olehnya.
"Ah, ternyata sulit menyelinap ke dalam ruangan calon istri pengusaha muda." Suara itu. Jinri sangat mengenal suara itu.
"Woo Bin-ah?" Jinri memutar tubuhnya dan mengalihkan pandangan ke sumber suara, balkon.
"Ya ini aku. Memangnya siapa lagi?" Woo Bin masih sibuk merapikan tatanan rambutnya yang rusak karena memakai helmet yang terlalu mencengkram kepalanya, ditambah lagi cara dia berkendara dijalanan sangat cepat dan terburu - buru.
"Apa kau sudah gila?!" Jinri menghampiri Woo Bin. Menarik sedikit gaunnya agar tidak menghambat langkah kakinya.
"Akan lebih gila lagi jika aku membiarkan gadisku menikah dengan pria lain."
"Tapi ka—"
"Kita tidak punya banyak waktu, sayang. Ikut aku atau kau akan tetap menikah dengan pria angkuh itu?"
"Aku...."
"Aish jawabanmu tidak mengubah niatku. Aku akan tetap membawamu pergi dari tempat ini. Ikut dan jangan berontak."
Woo Bin menarik tangan kanan Jinri, membuat gadis itu sedikit tersentak. Untung saja, ruangan Jinri tidak berada dilantai atas. Lantai 2. Mereka mengadakan pernikahan mewah di aula lantai dasar. Dan Woo Bin sudah menyiapkan apa yang harus digunakan untuk menyelinap masuk ke ruangan itu meskipun lewat balkon, dan tentu alat itu juga yang akan membawanya dan Jinri ke bawah, lantai paling dasar.
"Ah. Gaun ini sungguh menyiksaku." Gerutu Jinri saat dia sudah mulai berjalan bersama Woo Bin menuju motornya.
"Itulah resiko menjadi calon istri sang pengusaha muda yang kaya raya. Sangat mewah. Tapi menyiksa."

"Aku tidak menyangka kau akan melakukan hal segila ini." Jinri sedikit menghela nafas. Menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk dan nyaman, mereka kini ada di apartment Woo Bin. Tempat pelarian mereka yang paling aman.
"Tadi malam aku lebih gila. Sedetikpun waktu kulewatkan hanya untuk memikirkanmu. Bagaimana caranya membawamu untuk tetap bersamaku. Dan, ini hasilnya. Aku berhasil." Woo Bin tersenyum manis. Dia ikut duduk disamping Jinri, menatap gadisnya yang memang tampak sangat kelelahan dengan gaun super beratnya.
"Resiko yang akan kita tanggung nanti sungguh besar." Jinri balik menatap Woo Bin dengan tatapan cemas dan khawatir.
"Aku tidak peduli."
"Woo Bin-ah!"
"Apa? Yang terpenting kau sekarang ada disini bersamaku dan itu sudah lebih dari cukup."
"Kau sungguh keras kepala."
Woo Bin tersenyum lagi. Merentangkan kedua tangannya lalu menghela nafas. Jinri diam ditempat dan masih tampak sibuk dengan pikirannya.
"Bagaimana kalau mereka menemukan kita?"
"Aku tidak membawa ponsel. Jadi mereka tidak bisa melacak dimana kita sekarang."
"Tapi—"
"Ini apartment pribadiku. Tidak ada yang tahu tempat ini selain kau dan aku. Orang tuaku pun tidak tahu bahwa aku sudah membeli apartment ini. Jadi tenanglah."
Jinri bungkam. Ada sedikit perasaan lega menerpa hatinya.
"Kecuali kalau kau memberitahu ibumu atau si pria angkuh itu."
"Aku tidak sebodoh itu." Jinri tersenyum menatap Woo Bin. Dan Woo Bin membalas senyuman itu.
"Apa kau lapar?" Jinri menebak kondisi perut kekasihnya itu.
"Sangat lapar." Woo Bin sedikit mengeluh dan mengelus - elus perutnya.
"Sudah ku duga. Kau punya pakaian yang seukuranku? Aku ingin mandi dan melepas gaun terkutuk ini." Jinri mendengus kesal. Tubuhnya sedikit berkeringat dan dia sangat tidak nyaman dengan hal itu.
"Ada. Sebentar. Akan kuambilkan." Woo Bin melengos pergi kearah kamarnya.
"Setelah mandi aku pasti akan memasak untukmu. Tenanglah." Jinri sedikit berteriak karena Woo Bin sudah ada didalam kamarnya.
Sementara Jinri mandi, Woo Bin memutuskan untuk menyalakan televisi. Barangkali ada hal yang akan membuatnya lupa dengan rasa laparnya sembari menunggu kekasihnya selesai dengan urusannya itu.
"Apa - apaan ini. Hal seperti ini saja kenapa harus disiarkan di media publik? Sungguh berlebihan." Woo Bin menghempaskan tubuhnya kasar disandaran sofa. Pelarian diri Jinri dari pernikahan itu, kini seluruh warga di Seoul mengetahuinya. Oh tidak, ralat. Maksudku, seluruh warga Korea Selatan. Woo Bin melupakan satu hal. Min Ho adalah pengusaha muda yang kaya raya dan sangat berpengaruh di wilayah ia tinggal. Itulah alasan kenapa wajahnya muncul didepan televisi dengan tatapan marah dan ingin membunuh.
"Yang aku tahu, dia punya hubungan dengan pria lain selain aku." Tutur Min Ho lalu masuk ke dalam mobil super mewahnya dengan serbuan banyak wartawan.
"Apa yang sedang kau tonton?" tanya Jinri yang baru keluar dari kamar mandi dan masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Spontan, Woo Bin langsung mematikan televisinya. Dan untungnya, Jinri tidak menggubris acara apa yang barusan kekasihnya lihat, ia langsung melengos ke arah dapur.
"Drama roman picisan. Dialognya terdengar aneh." Woo Bin berbohong. Dia berdiri dari sofa lalu berjalan menghampiri Jinri yang masih sibuk menyiapkan bahan masakan untuk makan malam mereka berdua.
"Baju yang kau berikan kepadaku itu tidak satu ukuran dengan tubuhku. Lihatlah, membuat tubuhku kelihatan besar." Keluh Jinri saat melihat Woo Bin berdiri dihadapannya.
"Besar atau tidak, pada intinya badanmu saja yang kurang berisi. Toh itu satu - satunya bajuku dengan ukuran yang paling sempit." Canda Woo Bin, lalu mendapat balasan tatapan tajam oleh mata Jinri.
"Apa kau ingin ku bunuh sekarang huh?!" Jinri mengangkat pisau dapur yang kebetulan ia pegang sekarang. Bisa - bisanya Woo Bin mengejek nya dengan kata - kata itu. Tidak berisi? Jadi maksudnya tubuh Jinri datar, begitu?
Woo Bin tertawa. Dia sangat senang menggoda kekasihnya.
"Bersihkan tubuhmu. Baru boleh makan masakanku." pinta Jinri setengah kesal.
"Jika tidak boleh pun, aku bisa menelpon restoran langgananku untuk pesan makanan sekarang."
"Woo Bin-ah!"
Sekali lagi, Woo Bin tertawa. Dia mendekat ke arah Jinri, mengecup dahi Jinri sekilas lalu bergegas ke kamar mandi.

***

"Untuk apa kau kemari?" Seorang pria memakai kemeja putih dengan dasi birunya tampak menghampiri seorang pria dengan jaket kulit hitamnya dan tangan kanannya membawa helmet kendaraan bermotor.
"Aku sungguh tidak tahan lagi." Pria berjaket kulit itupun melemparkan tatapan marah dan tangan kirinya mengepal.
"Bukankah keluargamu itu keluarga terpandang? Tapi kenapa tingkahmu sungguh liar seperti ini, Woo Bin-ssi?" Pria berkemeja putih itupun tertawa meremehkan.
"Aku bisa membunuhmu sekarang juga jika itu perlu, Min Ho-ssi." Pria berjaket kulit itu sepertinya benar - benar murka.
Ya, itu Woo Bin. Dan pria berkemeja putih dihadapannya adalah Min Ho. Mereka sedang berada diruang kerja pribadi Min Ho, lebih tepatnya di perusahaan Lee Corp.
"Seharusnya aku yang membunuhmu sekarang." Min Ho balik menatap Woo Bin tajam.
"Batalkan pernikahan konyol itu. Kau sungguh pria yang menyedihkan."
"Jangan terburu - buru begitu," Min Ho mengeluarkan smirk andalannya.
"Jangan mengujiku."
"Dimana dia? Kau kah yang membawanya lari kemarin?"
"Dia bersamaku. Dan asal kau ta—"
"Kau memilih keputusan yang salah. Kau kira siapa dirimu? Kau membuat masalah tanpa memecahkannya sekalipun. Sangat kekanakan."
"Aku sudah cukup lama bersabar untukmu, Min Ho-ssi. Tapi kau membuatku sangat marah saat ini."
"Aku tidak peduli kau marah atau gila sekalipun. Dia untukku."
"Hentikan semuanya! Apa yang kau harapkan dari Jinri? Dia bukan anak orang kaya lagi. Dia tidak kenal denganmu cukup lama. Lalu kenapa kau langsung terlihat ingin sekali menikahinya?!" Woo Bin melemparkan helmet nya ke Min Ho, dan Min Ho menangkapnya tepat didepan dadanya yang bidang dengan menggunakan kedua tangannya.
"Aku mencintainya." Nada bicara Min Ho melemah. Ada tatapan penyesalan pada matanya. Sebentar...... Penyesalan?
"Jangan membodohiku!"
"Dia cinta pertamaku! 13 tahun yang lalu, kita sempat berkencan sekali —dua kali atau bahkan lebih. Aku mengatakan suka, dan diapun juga mengatakan hal yang sama. Kita jalani semuanya dengan baik. Tapi akhirnya—"
Woo Bin diam. Lebih tepatnya, menunggu Min Ho menyelesaikan pernyataannya. Salahkah jika Woo Bin terkejut atas hal yang telah diungkapkan Min Ho? Atau ternyata itu hanya omong kosong agar Min Ho bisa mendapatkan gadisnya?
"Aku meninggalkannya. Tanpa kata perpisahan. Tanpa kabar." Min Ho menghela nafas sedikit keras. Kurasa dia sungguh bodoh. Kenapa harus mengungkapkan semua itu pada pria yang jelas - jelas sudah membawa lari calon istrinya?
"Kau sungguh pria tolol."
Woo Bin melengos pergi. Tapi saat dia mulai membuka pintu ruangan, tubuhnya berbalik dan mulai menghampiri Min Ho yang masih berdiri, beku ditempat.
"Kembalikan helmetku." Woo Bin menyodorkan tangan kanannya dan jari telunjuknya bergerak seolah mengatakan 'berikan helmet itu padaku'.
Min Ho mendengus. Dia melemparkan kembali helmet yang dia tangkap pada Woo Bin.
Woo Bin menangkapnya lalu mulai berjalan lagi kearah pintu ruangan.
"Aku akan melunasi hutangnya. Jadi kau tidak perlu menikahinya."

"Aku tidak bisa terus - terusan seperti ini," Gadis itu. Kembali mengeluh. Suaranya melemah dan terdengar menuntut. Pria yang ada disampingnya hanya menatap nya penuh.
"Berikan tanganmu. Yang kanan," Gadis itu menyodorkan tangannya. Sepertinya ada hal yang harus dia lihat agar dia mengerti apa yang harus dilakukan sekarang.
Pria itu bingung, lalu menyodorkan kedua tangannya terhadap gadis dihadapannya.
"Ternyata benar. Kau juga lari dari acara pertunanganmu?" Gadis itu—Ya. Itu Lee Jinri dan Kim Woo Bin. Hari ini adalah tepat 5 hari mereka berada di apartment pribadi sekaligus rahasia milik Woo Bin. Jinri sudah mengetahui berita sialan itu. Dia terkurung di apartment Woo Bin karena jika ia keluar satu langkahpun, akan dipastikan keadaan malah semakin memburuk.
"Lalu aku harus mengikuti acara bodoh itu? Memakai cincin di jari tengahku, lalu memakaikannya juga di jari gadis lain selain dirimu? Oh yang benar saja." Woo Bin mendengus. Dia benar - benar malas membahas urusan pribadinya. Seharusnya yang dibahas disini adalah urusan mereka. Yang harus segera diselesaikan.
"Tadi pagi, aku menemui ibumu." Jinri mengalihkan pandangan ke arah lain. Menatap lantai, tapi tatapannya kosong. Woo Bin terkejut bukan main, dia bangkit untuk duduk tegak lalu menatap gadis itu.
"Apa kau sudah—"
"Ya. Aku gila. Aku lelah hidup layaknya tahanan seperti ini berhari - hari. Aku rindu ibu dan ayahku. Aku lelah diposisi ini, Woo Bin-ah!" Tangisannya pecah. Semua rasa sesak di dadanya sudah dikeluarkan lewat air matanya yang mulai mengalir deras di pipinya.
"Harusnya kau lebih bersabar, Jinri-ah."
"Aku tidak bisa. Ini sungguh menyiksaku. Kita bersama, tapi banyak dari mereka yang tidak tahu bahkan tidak ingin kita bersama. Harusnya aku menolak saat kau mulai menarikku dan membawaku lari dari pernikahan itu."
"Katakan. Apa yang ibuku bicarakan bersamamu? Apa dia menyakitimu?" Woo Bin memasang wajah nya yang khawatir. Jinri belakangan ini seharusnya sudah mulai bangkit. Tapi sekarang, dia sepertinya kembali jatuh.
"Ibumu berhasil menyadarkanku,"
Woo Bin mengernyitkan alisnya, bingung.
"Dia berhasil menyadarkanku bahwa kita seharusnya tidak melakukan tindakan ini. Kita sudah lari dari masalah. Aku membuatmu lari dari acara pertunangan yang jelas - jelas sangat penting untuk keluargamu. Aku lari dari tanggung jawabku yang tidak sanggup membayar hutang - hutangku. Aku—"
"Aku hidup untuk mencari kebahagiaanku sendiri. Aku tidak peduli jika aku harus jatuh miskin sekalipun. Dan kebahagiaanku adalah dirimu,"
Jinri bungkam. Sial! Kata - kata pria ini sukses membuat dirinya gila. Ini sungguh menyulitkan dirinya!
"Aku sudah menemui pria itu." Woo Bin mengalihkan pandangan. Dia masih larut dalam pikirannya yang mengatakan bahwa ini harus benar - benar diselesaikan. Dia tidak ingin hidupnya penuh aturan seperti ini.
"Min Ho? Kau menemuinya? Apa saja yang kalian bicarakan?"
"Aku memintanya membatalkan kontrak pernikahan itu."
Jinri diam mengangguk. Seakan meminta Woo Bin untuk meneruskan perkataannya.
"Tapi dia tidak mau. Dia bilang kalau—" Woo Bin menggantungkan kalimatnya. Rasanya enggan bila diteruskan.
"Dia bilang apa, hm?"
"Dia bilang, kau adalah cinta pertamanya. 13 tahun yang lalu."
Spontan, kalimat yang terlontar dari bibir Woo Bin mampu membuat Jinri membulatkan kedua matanya sempurna.

TBC.

2 komentar:

  1. Thor.. Ini ffnya kece abis
    castnya tamvan2 pula 😍
    Bahasanya juga bagus, detail bgt malah.
    Trus ff nya tuh greget dan sedikt.. Eum.. Yah gitu lah..
    Baru liat kalo ternyata ini pg 18 wkwk
    Ditunggu next part nya thor. Keep writing 😊

    BalasHapus

  2. Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

    Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

    Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

    Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

    Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut

    BalasHapus