Senin, 26 Januari 2015

Love chap 2

LOVE
Pemain : Bobby, Jinhwan, Chanwoo, Donghyuk, B.I, Junhoe, Yunhyong, Choi Hana, Kim Seohyun, Lee Jinri, Park Minyoung.

Author pov. 
          Surga dunia, kalimat yang tepat untuk menggambarkan keadaan seluruh murid yang bersekolah di SIHS ini. Pengumuman beberapa menit yang lalu, mampu membuat seluruh koridor dan kelas di sekolah ini bergonjang akibat teriakan bahagia semua murid disini. Sedikit lebay, itulah yang ada dipikiran anda. Tapi apakah kalian tidak bahagia bila mendengar pengumuman bahwa seluruh guru mengadakan rapat sampai jam istirahat usai? Pastinya kalian akan mengikuti kelakuan murid SIHS ini.
Kesempatan emas ini tentu tidak disia-siakan oleh seluruh murid SIHS. Buktinya banyak kelas yang bisa dibilang tidak berpenghuni. Seluruh murid lebih memilih untuk keluar kelas merasakan oksigen kebebasan mereka, daripada merasakan oksigen yang membuat seluruh syaraf mereka menegang. Tapi bila dilihat satu dari sekian banyak kelas yang ada di SIHS, sepertinya hal itu tidak berlaku bagi ketiga siswi yang sedang duduk dengan saling berhadap-hadapan ini.
“Minyoung, kau berhutang penjelasan pada kami semua” ucap Hana sambil melihat kearah Minyoung.
“Penjelasan apa? Kalian kan lebih pintar daripada aku. Kenapa kalian minta penjelasan pelajaran padaku? ” tanya Minyoung sambil menunjukkan ekspresi wajah lugu miliknya. Membuat Hana dan Jinri menghela napas mereka pelan.
“Bukan penjelasan seperti itu, Minyoung sayang” ucap Jinri dengan sabar.
“Lalu yang bagaimana?” tanya Minyoung lagi.
“Kenapa tadi pagi kau bisa bersama dengan salah satu dari mereka?” tanya Hana.
“Salah satu dari mereka? Siapa?” tanya Minyoung lagi.
“Kim Donghyuk” jawab Jinri sambil berusaha sabar menghadapi perilaku dari Minyoung, begitu pula dengan Hana.
“Ohh.. Donghyuk, aku tadi pagi dijemput olehnya. Jadi yaa, aku ke sekolah bersama dia” ucap Minyoung.
“Bagaimana kalian bisa kenal?” tanya Hana lagi.
“Kemarin, saat aku menunggu my GD di kantornya. Kita bertemu, berkenalan, dan juga berkencan hehehe” ujar Minyoung sambil tertawa tanpa dosa.
“Ohh.. begitu” ucap Hana dan Jinri bersama.
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
5 detik
“APAA?? BERKENCAN??” teriak kedua wanita itu dengan keras, sehingga membuat beberapa murid disekitarnya langsung menoleh kearah mereka. Sadar akan kelakuan yang diperbuat, mereka berdua langsung membungkukkan tubuh bersama tanda ‘minta maaf’ atas kelakuan mereka.
“Bisakah kalian tidak berteriak seperti itu? Aku hanya berkencan bukan menikah” ujar Minyoung.
“Ke..kenapa bisa sampai berkencan?” tanya Hana lagi.
“Hana, apa yang kau makan tadi malam? Kenapa hari ini kau kepo sekali? Sungguh berbeda dengan kelakuan mu yang biasanya. Apa jangan-jangan kau bukan Hana sahabatku?” ucap Minyoung sambil menatap kearah Hana dengan ekspresi terkejut. Hana? Hanya menghela napas untuk yang kesekian kalinya.
“Minyoung sayang, ini adalah Hana sahabat kita. Hana dan aku sangat penasaran kenapa kau bisa bersama Donghyuk. Jadi wajarkan Hana banyak bertanya padamu. Mengerti? ” ujar Jinri mencoba membantu Hana menghadapi kelakuan ajaib sahabat mereka ini. Minyoung menganggukan kepala dengan keras bertanda ia mengerti dengan ucapan Jinri.
“Baiklah.. Jadi gini.. Woo.. Donghyukk” penjelasan Minyoung terputus saat ia melihat Donghyuk berjalan kearah mereka. Hana dan Jinri langsung mengalihkan perhatian mereka pada satu sosok itu.
“Hai, Minyoung” sapa Donghyuk dengan senyum menawan andalannya. Walaupun kelas ini sepi, eitss.. jangan lupakan keadaan di luar kelas yang begitu ramai dengan teriakan, saat salah satu member iKon dengan senang hati berkunjung ke kelas ini.
“Hai, Donghyuk. Kenapa kau kemari?” tanya Minyoung.
“Aku ingin mengajak mu ke luar, kau tidak keberatan?” tanya Donghyuk balik.
“Asalkan ditempat yang banyak makanannya, aku tidak keberatan sama sekali” ujar Minyoung dengan senyum tanpa dosanya. Hal ini membuat Donghyuk semakin mengembangkan senyumannya.
“Apapun keinginan mu akan ku kabulkan. Ayo kita segera pergi” ucap Donghyuk sambil menarik tangan Minyoung sehingga membuat Minyoung berdiri dari tempat duduknya.
“Hana, Jinri, kita ketemu lagi nanti yaa. Bye.. bye..” ucap Minyoung sambil berjalan keluar kelas. Langkah demi langkah Minyoung dan Donghyuk diiringi oleh teriakan milik seluruh siswi disini. Ohh.. jangan lupakan kedua siswi yang sejak tadi hanya melamun melihat interaksi kedua sosok itu.
“Kenapa aku merasa bersyukur saat Minyoung berkencan dengan Donghyuk” ucap Jinri yang sudah tersadar.
“Me too” ujar Hana.
“Sekarang tinggal kita” ucap Jinri.
“Aku ingin ke taman, kau sendiri?” tanya Hana.
“Mungkin ke ruang vocal” ujar Jinri. Hana hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan Jinri.
^^^^
           Bisa dibilang sepanjang koridor SIHS penuh dengan lautan murid disini. Tetapi hal itu tidak berarti, bila anda menuju ke ruang vocal sekolah ini. Bukan lautan manusia yang kalian jumpai, akan tetapi suara merdu dari piano yang akan memanjakan telinga anda. Siapa orang yang memainkan suara piano yang sangat indah itu? Sehingga membuat murid bernama Jinri terpaku?.
           Setelah sekian lama Jinri diam membisu mendengar lantunan piano, akhirnya ia tersadar ke dunia nyata. Dia melanjutkan perjalanannya yang tertunda tadi menuju ke dalam ruang music tersebut. Lantunan piano itu terdengar kembali di telinga Jinri, namun dengan nada yang berbeda serta terdengar lebih keras daripada yang tadi. Hal itu karena Jinri sudah sampai kedalam ruang music tersebut. Dilihatnya ada seorang lelaki yang sedang menikmati memainkan tombol-tombol piano itu dengan hikmat. Jinri mengenal sosok itu, tapi ia enggan untuk sekedar basa-basi menyapanya.
“Menikmati apa yang kau lihat atau apa yang kau dengar, Lee Jinri?” tanya sosok tersebut yang sudah menghentikan permainan nada-nada miliknya, membuat Jinri kembali pada dunia nyata.
“Yang ku dengar” ucap Jinri.
“Ternyata kau lebih menyukai nada-nada itu daripada diriku. Hal ini entah kenapa langsung membuat hatiku sakit” ujar sosok itu sambil memegang dada kirinya. Jinri? Siswi itu hanya memutar matanya.
“Seharusnya, tadi aku tidak terpaku pada apapun yang kau lakukan, Junhoe” ucap Jinri.
“Kau jadi semakin err.. jahat sekali padaku, Jinri. Apa karena kau berteman dengan mereka membuat sifatmu menjadi berubah 180’? Oh aku sungguh takut dengan sifatmu yang sekarang” ujar Junhoe menatap Jinri dengan ekspresi takut yang dibuat-buatnya.
“Hentikan ekspresi berlebihan mu. Yang perlu kau tau mereka adalah sahabat ku sejak kecil” ucap Jinri yang tanpa sengaja menatap Junhoe tajam.
“I know I know. Dan berhentilah menatap ku seperti itu, kau kelihatan seperti ibu tiri” ujar Junhoe. Jinri hanya menghela napas, baginya percuma berdebat dengan sosok di depannya ini.
“Apa yang kau lakukan di ruangan ini?” tanya Jinri mencoba mengalihkan perdebatan.
“Apakah ada larangan aku masuk di ruangan ini?” tanya Junhoe yang bagi Jinri tidak masuk akal.
“Aku hanya bertanya, kenapa kau di ruangan ini, Junhoe? Dan aku tidak mengatakan melarang mu masuk ke ruangan ini” ucap Jinri mencoba bersabar. Bagi Jinri, Junhoe adalah perwujudan Minyoung dalam versi cowok.
“Ya seperti tadi yang kau lihat, hanya memainkan beberapa alat music” ucap Junhoe dengan tersenyum. Jinri hanya menganggukan kepala bertanda dia mengerti ucapan Junhoe.
“Sebentar lagi ulang tahun Chanwoo. Apa kau akan datang?” tanya Junhoe yang membuat Jinri terdiam beberapa saat. Dia masih ingat betul kapan hari kelahiran mantan kekasihnya itu. Tapi semenjak putus ia tidak pernah datang atau sekedar memberinya ucapan selamat ulang tahun. Bukan karena ia tidak ingin datang (malah ia selalu antusias menyiapkan gaun yang ia pakai untuk ke pesta itu), alasannya adalah tidak adanya surat burung berlapis pita cantik yang mampir ke padanya.
“Bolehkah aku berharap untuk datang?” tanya Jinri tanpa sadar.
“Hei, kenapa harus berharap? Kau bisa datang sesuka hatimu” ucap Junhoe membuat Jinri lagi-lagi terdiam. Melamun lagi? Ya, semenjak putus dari Chanwoo, melamun sudah menjadi kebiasaannya, karena itulah Seohyun selalu menegurnya.
“Wait wait. Aku baru ingat, semenjak kau putus dengan Chanwoo, kau tidak pernah datang ke pesta ulang tahunnya. Apa kau memang sengaja untuk tidak datang kesana?” ujar Junhoe lagi.
“Apa kata mu? Justru aku sangat ingin datang ke pestanya, kau tak tau bagaimana diriku selalu mempersiapkan diri hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya” ucap Jinri spontan setelah tersadar dari lamunannya. Dengan gerakan spontan pula ia segera menutup mulutnya menggunakan kedua tangan miliknya.
“Wooo benarkah?” ujar Junhoe sambil tersenyum sangat tipis menyerupai seringai.
“Ahh tidak tidak, lupakan ucapan ku yang tadi. Mungkin aku harus pergi dari sini” ucap Jinri lalu berbalik ke arah pintu masuk pergi.
“Datanglah ke pestanya. Aku yakin dia pasti sangat menyukai kehadiran mu” ucap Junhoe dengan keras agar bisa terdengar oleh Jinri yang sudah berada di luar ruangan.
^^^^
           Atap sekolah, bangunan paling atas sekolah ini mungkin menjadi salah satu favourite banyak murid di sekolah. Udara yang langsung menerobos ke kulit serta pemandangan yang sangat memanjakan mata itulah alasan mengapa bangunan ini menjadi favourite. Tapi bagi salah satu siswa SIHS ini, ada alasan lain kenapa ia sangat menyukai berada lama-lama di atap sekolah. Karena alasan itulah, Bobby (sapaan akrab siswa itu) betah berlama-lama berada di atap sekolah ini.
           Matanya sibuk menyapu pemandangan yang berada di bawah atap sekolah ini. Setelah sekian lama, akhirnya mata elang miliknya berada tepat pada satu sosok wanita yang ia cari sejak tadi.
^^^^
Bobby pov.
           Love at first sight. Mungkin banyak orang yang tidak percaya dengan kalimat itu. Tapi bagiku, kalimat itulah yang selama ini ku rasakan. Dulu, mungkin aku hanya menganggap ini sabagai rasa ketertarikan ku saja padanya. Tapi semakin lama aku mulai sadar, bahwa selama ini aku mencintai dirinya sejak pandangan pertama. Karena itulah aku rela disebut playboy di sekolah ini.
“Harus berapa banyak wanita lagi yang ku ajak kencan agar kau memperhatikan ku?” tanya ku pada sosok yang ku tatap dari atas ini. Pengecut? Kata itu mungkin pantas untuk ku. Bila aku menceritakan hal ini kepada semua orang, tidak butuh 5 menit aku yakin mereka langsung mengataiku dengan kata itu.
“Tangga dan koridor sekolah menuju ke taman belakang, seingat ku tadi sepi” kata seseorang yang ku yakini ia adalah wanita, menyadarkan aku untuk kembali ke dunia nyata ini. Ku alihkan perhatian ku kearah samping dimana sosok itu berada. Benar dugaan ku, ia adalah wanita dan ku bahkan sangat mengenalnya.
“Apa maksud mu, Yoojung?” tanya ku pada wanita di sampingku.
“Daripada kau terus menerus memandanginya, lebih baik kau menghampirinya dan mengajak dia berkenalan. Simple bukan?” ucap Yoojung sambil memandang lurus ke depan dengan senyum yang mengembang.
“Sangat simple bagimu, tetapi tidak bagiku” ujar ku sambil memandang kembali ke bawah tepat pada sosok wanita yang ku cintai.
“Lalu, kau akan terus menjadikan aku kekasih bohongan mu. Oh My Godd.. kalau kau bukan saudara ku, sudah kupastikan Seunghoon akan membunuhmu karena sudah berani memperalat kekasihnya” kata Yoojung yang menurutku sedikit berlebihan.
“Memperalat? Sepertinya otak mu sedikit miring Yoojung. Bukannya waktu itu kau yang langsung menyetujui usulan dari Yunhyong” ujar ku tanpa melihatnya.
“Baiklah baiklah. Kata memperalat akan aku hapus” ucap Yoojung yang terdengar seidikit kesal. Setelah itu, aku lebih memilih diam memperhatikan wanita manis itu daripada menjawab ucapan Yoojung.
“Menurut ku, Hana suka atau mungkin cinta pada mu” ujar Yoojung yang membuat aku tersadar dari dunia ilusi.
“Benarkah?” tanya ku sambil melihatnya.
“Apa untungnya aku bohong kepada mu, my brother ehmm” ucap Yoojung sambil tersenyum melihat ku.
“Hahaha.. impossible” ucap ku dengan nada mengejek. Ku lihat Yoojung hanya tersenyum yang pasti menurut Seunghoon manis.
“Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin” ucap Yoojung yang membuat ku menaikan alis tebal ku bertanda aku tidak mengerti ucapan dia.
“Mungkin selama ini Hana bersikap acuh terhadap apapun mengenai dirimu. Tapi, apa kau tau isi hatinya? Aku adalah wanita dan aku tau bagaimana sifat wanita yang lagi jatuh cinta atau pun suka pada lawan jenis” ucap Yoojung. Setelah itu, muncul satu pertanyaan dalam benakku.
‘Benarkah apa yang Yoojung di katakannya? Dan benarkah dia menyukai ku?’. Belum sempat aku menerka nerka jawaban dari pertanyaan ku sendiri, tiba tiba Yoojung mendekat kearah ku dan membisikan aku sebuah kalimat.
“Sadarlah! kita harus menjadi artis professional, my brother” ucap Yoojung.
^^^^
Author pov.
           Bila semua siswa SIHS bersenang-senang dengan oksigen kebebasan ini. Lain halnya dengan siswi yang memiliki nama Kim Seohyun, ia lebih memilih menghabiskan seluruh oksigen kebebasan dengan berlatih keras meraih impiannya. Mungkin kali ini dia harus mengucapkan banyak terima kasih kepada semua guru di SIHS, karena hari ini ia terbebas dari salah satu tim disipliner yang sudah ia cap ‘parasit’ di hidupnya.
           Prok.. Prok.. Prok.. suara tepukan tangan seseorang mengiringi berakhirnya gerakan yang dilakukan Seohyun. Ohh terima kasih kepada kaca yang membentang luas pada ruangan ini, karena ia bisa langsung mengenali sosok itu melalui pantulan kaca di depannya. Rupanya Seohyun enggan menyapa sosok itu, dan lebih memilih mengambil sebotol air mineral.
“Ternyata tidak sia sia kau membolos. Hasilnya sangat memuaskan” ucap sosok itu sambil mendekat kearah Seohyun yang sedang meneguk minuman.
“Daripada kau berbicara omong kosong, lebih baik kau pergi dari sini, Hanbin” ucap Seohyun yang selesai meneguk minumannya pada sosok yang ternyata salah satu idola sekolah ini.
“WOW.. rupanya sifat galak mu tidak berubah, Seohyun” ucap Hanbin yang membuat Seohyun hanya memandang tajam kearahnya.
“Sloww girl.. aku kesini hanya ingin menemui pasangan di kelas dance ku dulu” ucap Hanbin sambil tersenyum.
“Kalau tidak ada urusan lain lebih baik kau pergi karena aku sungguh tidak ada waktu untuk mengurusi mu” ucap sarkastik Seohyun.
“Oke okee.. aku lupa kalau kau tak suka basa basi. Baiklah, tujuan ku kesini selain melihat mu, aku juga ingin menyampaikan berita penting dari sekolah” ucap Hanbin.
“Lalu hubungannya dengan ku apa” ujar Seohyun.
“Aku memilih mu untuk mewakili Dance Competition in Seoul untuk sekolah kita” ucap Hanbin dengan tersenyum.
“Kenapa harus aku?” ujar Seohyun.
“Karena aku tau kau adalah yang terbaik dalam hal ini. Ahh aku lupa memberi mu satu hal penting, competisi ini mengharuskan mu berpasangan dan aku juga sudah menentukan pasangan mu” ujar Hanbin membuat Seohyun menautkan alisnya.
“Aku tidak mau. Kenapa tidak kau saja yang maju mewakili sekolah” ucap Seohyun.
“Apa kau tidak ingat dengan kaki ku waktu itu? Dan sejak saat itu aku tidak bisa ngedance dengan sempurna seperti sebelumnya” ucap Hanbin. Seohyun hanya diam membisu setelah Hanbin menyelesaikan ucapannya.
“Alasan kau menolak ini, apa karena kau takut kalah, Kim Seohyun? Kalau benar, berarti selama ini aku salah menilai dirimu, Kim Seohyun” ucap Hanbin dengan tersenyum menyeringai yang menyulut emosi seorang Kim Seohyun.
“Kau.. baiklah aku akan mewakili sekolah ini dan akan ku buktikan padamu kalau aku sama sekali tidak takut dengan kata ‘kalah’” ucap Seohyun dengan menatap tajam Hanbin. Sedangkan Hanbin hanya tersenyum puas.
“Inilah Kim Seohyun yang ku kenal. Jadwal latihan mu dengan pasangan mu akan ku atur. Baiklah aku pergi dulu, istirahatlah agar badan mu lebih fit” ucap Hanbin dengan tersenyum lalu berbalik menuju pintu keluar.
“Siapa pasangan ku?” tanya Seohyun yang berhasil membuat langkah Hanbin terhenti.
“Kau akan tau nanti” ucap Hanbin dengan tersenyum misterius tanpa melihat Seohyun.
^^^^ TBC









         




Minggu, 25 Januari 2015

[Drabble]

Wait For Me

Main Cast :

■ Jung Chanwoo [iKON]

■ Lee Jinri [OC]

Support Cast :

Go find out your self.

Genre : Romance

Length : Drabble

Rating : General

Author : 찬'sbae

"Kuharap kau mau menungguku."

---

Seorang gadis tampak gusar menunggu seseorang menemuinya. Dia duduk dibangku taman dengan memegang erat hoodie tebalnya. Dingin, pikirnya. Hari ini tepat dimana salju pertama turun dikota Seoul. Tak jarang juga ia menggosokkan kedua tangannya kasar agar mendapatkan kehangatan kecil pada tangannya yang hampir beku.

"Jinri-ya,"

Seorang pria menghampirinya lalu duduk disebelahnya, meraih kedua tangan gadis itu dan mulai menggosokkan kedua tangannya pula pada tangan gadis itu. Rupanya pria itu tidak ingin gadis itu kedinginan.

"Kupikir kau tidak datang, Chanwoo-ya."

Gadis yang dipanggil Jinri itu tersenyum kikuk. Rasa dingin sudah hampir mendominasi tubuhnya. Hoodie tebalnya pun tak mampu membendung dinginnya kota Seoul saat ini.

"Sudah kubilang, aku pasti datang."

Yang disebut Chanwoo juga ikut tersenyum dan masih sibuk menghangatkan tangan Jinri. Bahkan raut wajahnya menunjukkan bahwa dia sedikit khawatir.

"Disini dingin sekali. Ish." Tutur Jinri, dengan suara yang bergetar dan masih menatap Chanwoo dalam.

"Kemarilah,"

Chanwoo menarik Jinri kepelukannya. Berharap akan memberi kehangatan walau sedikit. Chanwoo juga kedinginan, sebenarnya. Tapi yang terpenting baginya saat ini, Jinri harus merasa hangat.

"Haruskah aku membalas pelukan ini agar kita sama - sama merasa hangat?"

Keduanya terkekeh. Chanwoo mempererat pelukannya dan Jinri mulai membalas perlakuan pria itu. Hidung dan mulut mereka sama - sama mengeluarkan sedikit asap, tanda bahwa keduanya sama - sama dingin.

"Sampai kapan aku harus menunggumu nanti?"

Raut wajah Chanwoo berubah. Dia gelagapan mendengar pertanyaan Jinri. Dia juga tidak bisa lari dari kenyataan. Kenyataan yang mengatakan bahwa dia telah dipilih sebagai trainee disebuah agensi dunia hiburan ternama di negaranya, untuk didebutkan bersama teman - teman barunya, membentuk sebuah grup boyband yang diyakini akan buming nantinya.

"Aku tidak tahu pasti. Kuharap kau akan selalu menungguku."

Chanwoo mengelus pelan rambut gadis yang berada di dadanya yang bidang. Ini sulit. Dia harus meninggalkan kehidupannya dan mulai fokus pada tujuan utamanya, popularitas dan keberhasilan. Yang paling membebani hatinya saat ini, Dia harus meninggalkan gadis yang selama ini berada disampingnya dan memberi warna pada kehidupannya.

"Aku akan selalu menunggumu, Jung Chanwoo."

Finn.

Kamis, 15 Januari 2015

Warm Hug [II]

Chapter 2

Cast:
■ Lee Jinri [OC]
■ Kim Woo Bin
■ Lee Min Ho

Genre: Romance

Length: Chapter

Writer: 찬'sbae

Rating: PG-18

  "Apa yang membuat semua orang kadang terlihat sangat egois?"

"Perasaan. Yang dapat mengalahkan akal sehat bahkan logika mereka sendiri."

***

Author's POV

"Dia bilang, kau adalah cinta pertamanya. 13 tahun yang lalu."
Sepasang mata Jinri membulat sempurna mendengar perkataan dari pria yang ada dihadapannya. Apa Woo Bin minum alkohol? Kenapa bicaranya tidak masuk akal sama sekali?
"Tidak. Itu omong kosong." Jinri menepis pernyataan Woo Bin. Ini tidak mungkin! Cinta pertama? Tapi kenapa Jinri tidak mengingatnya sama sekali?
"Kuharap begitu." Woo Bin menghela nafasnya kasar lalu berdiri, melepas jaket kulitnya serta baju tipis putihnya.
"YA! Kenapa harus membukanya disini?!" Jinri menutup matanya dengan kedua tangannya. Yang benar saja, bagaimanapun ini membuat Jinri merasa tak nyaman. Dia tidak terbiasa melihat tubuh bagian atas seorang pria secara langsung seperti ini.
"Jangan berlebihan. Atau kau juga ingin aku membuka semuanya disini?" Goda Woo Bin yang sukses mendapat lemparan bantal kecil yang ada di sofa.
Bug.
Tepat mengenai wajah pria itu. Lemparan yang bagus.
"Enyah dari hadapanku Woo Bin-ah!" Seru Jinri sembari tetap menutup kedua matanya. Woo Bin tertawa. Setidaknya gadis itu dapat membuatnya sedikit melupakan apa yang telah terjadi hari ini. Niatnya yang dari awal ingin menghabisi Min Ho, hilang begitu saja saat ini.
"Aku mandi dulu." Woo Bin melengos pergi menuju kamar mandi, masih dengan keadaan bibirnya yang tersenyum.
"Hei ini sudah larut, nanti kau sakit!"
"Tidak masalah. Ada kau yang akan merawatku nanti jika aku sakit."
"Aish!" Jinri menggerutu. Pria itu memang sangat, sangat, dan sangat keras kepala.
Tidak ada yang bisa Jinri lakukan saat ini. Malam sudah larut, dan matanya pun mulai tidak stabil untuk tetap terbuka. Jinri memutuskan untuk bergegas pergi ke kamar.
Sepertinya besok dia akan mulai bertindak dan mengambil resiko.

*

"Ngggg—" Seorang gadis mengerang dan sedikit mengubah posisi tidurnya. Matanya terasa nyeri saat cahaya matahari pagi mencoba masuk kedalam matanya, berusaha menyadarkan.
"Selamat pagi." Suara yang berat dan sedikit lantang. Kira - kira itu pendapat si gadis, Lee Jinri mengenai suara kekasihnya sendiri, Kim Woo Bin.
"Aku masih mengantuk. Ish." Jinri menutup seluruh kepalanya dengan bantal. Dia rasa, ini masih terlalu pagi. Dan ini kali pertama selama 6 hari ini, Woo Bin yang memutuskan untuk bangun lebih awal dari Jinri. Hari - hari yang lalu, itu sebaliknya.
"Aish. Kau ini," Woo Bin mulai menggerutu. Menghampiri gadis yang selalu ada dipikirannya itu pelan - pelan.
"Apa kau tidak ingin membuatkanku sarapan, hm?" Lanjut Woo Bin. Ia sekarang sudah berdiri disamping kasur, menarik paksa bantal yang menutupi wajah Jinri.
Jinri membuka matanya, memasang wajah yang kesal, lalu mulai bangkit dari posisi tidurnya untuk duduk.
Woo Bin memandang gadisnya, bingung.
Jinri menatap Woo Bin tajam walau matanya belum terbuka sempurna. Lalu pandangannya menurun sampai ke bagian tubuh Woo Bin yang paling bawah, telapak kaki.
"Tanganmu, utuh. Satu pasang." Jinri menggapai kedua tangan Woo Bin dan mengangkatnya agar Woo Bin bisa melihatnya juga. Seakan Jinri menunjukkan bahwa tangan kekasihnya itu masih utuh.
"Kakimu, utuh. Masih satu pasang juga." Jinri menepuk - nepuk paha Woo Bin yang masih tertutup oleh kain celananya.
Woo Bin mengangkat alisnya, dia benar - benar bingung. Apa sekarang gadisnya ini kurang sehat?
"Matamu, masih utuh. Satu pasang juga!" Jinri membentuk jari tangannya dengan angka 'dua' lalu menunjuk kedua mata Woo Bin dengan dua jari nya itu.
"Hei apa kau—"
"Dengan keadaan yang masih serba utuh seperti ini, kenapa kau tidak membuat sarapanmu sendiri huh? Kenapa kau harus mengganggu tidurku?" Gerutu Jinri, menggaruk - garuk kepalanya yang justru membuat nya terlihat sangat berantakan.
"Aku ingin kau jadi istri yang baik. Untukku nanti." Woo Bin tersenyum simpul, mengacak - acak pelan rambut Jinri yang sudah berantakan, lalu pergi meninggalkan Jinri yang masih terduduk diam dikasurnya.

"Kau mau makan apa?" Jinri sudah rapi. Dia sekarang berada didapur, segera menyiapkan sarapan untuk Woo Bin.
"Apa saja. Asal kau yang memasaknya." Woo Bin sedang duduk di meja makan yang berada tepat didepan dapur.
"Baiklah," Jinri mulai mengambil bahan yang ada di lemari pendingin dengan hati - hati. Menaruhnya di meja dekat kompor, lalu menatanya.
"Jangan menatapku terus seperti itu." Jinri memandang Woo Bin sekilas yang juga sedang melihatnya memasak saat ini, lalu kembali fokus dengan bahan masakannya.
Woo Bin tidak menggubris perkataan Jinri. Dia masih setia menatap Jinri dengan senyuman yang terukir di wajahnya, dan tangan yang menopang kepalanya di meja.
"Lama sekali ish." Gerutu Woo Bin. Kekasihnya masih sibuk memasak untuknya.
"Kau masak apa?" Woo Bin memasang wajah sedikit kesal. Tetap duduk, tetapi tidak lagi menopangkan kepalanya ditangannya, dia melipat kedua tangannya tepat didepan dadanya.
"Diamlah. Ini sudah hampir matang."
"Jinri-ya, Aku bisa mati kelaparan."
"Kalau begitu, mati saja."
"YA!"
Jinri tertawa saat pandangannya masih fokus dengan masakannya.
Sarapanpun siap setelah Woo Bin menunggu cukup lama dan hampir membuatnya kesal setengah mati. Woo Bin mulai memakan masakan Jinri, sedangkan Jinri duduk diam dihadapannya dan menunggu respon dari kekasihnya tentang masakannya.
"Oh ayolah, ini enak sekali." ucap Woo Bin dengan mulutnya yang penuh dengan daging asap dan nasi.
"Kau bilang—" Ucapan Jinri berhenti.
Bel apartment Woo Bin berbunyi, tanda ada seseorang didepan pintu apartment mereka. Sebentar..... Bukankah Woo Bin pernah mengatakan bahwa hanya dia dan Jinri lah yang tahu tentang apartment ini?
"Biar aku yang membukanya." Jinri mulai bangkit berdiri, kali ini dia harus siap untuk menghadapi siapapun. Siapapun!
"Jangan. Biar aku saja. Kau tetaplah disini." Woo Bin menahan lengan Jinri dan mulai bangkit berdiri. Bagaimana jika ternyata itu Min Ho, si pria menyedihkan? Atau orang suruhan yang diperintah oleh Min Ho untuk menjemput paksa Jinri? Oh tidak - tidak. Hal itu tidak boleh terjadi.
"Kau yang harusnya tetap disini. Duduk dan habiskan sarapanmu." Jinri menepis tangan Woo Bin pelan, berjalan menuju pintu masuk sekaligus pintu keluar apartment tersebut.
Woo Bin mendengus.
Sebelum Jinri membuka pintunya, dia berniat untuk melihat, siapa yang datang ke apartment pribadi kekasihnya tersebut se-pagi ini? Dia menggeser kunci layar LCD yang dekat dengan pintu, menghubungkan ke kamera pemantau yang ada didepan pintu bagian luar apartment.
"Ahjumma?" Gumam Jinri lalu membulatkan kedua matanya sejenak. Ya, tamu pagi hari ini yang tertangkap oleh kamera pemantau adalah ibu kekasihnya, Nyonya Kim yang sedang berdiri didepan pintu apartment itu.
Jinri menarik nafas, lalu menghembuskannya kasar. Kedua tangannya mengepal dan dadanya berdebar. Sungguh tidak bisa dipungkiri, sekarang dia merasa takut.
"Siapa yang datang?" Teriak Woo Bin dari arah dapur. Jinri tidak menggubris. Dan dengan sisa - sisa keberaniannya, dia mulai membuka pintu dengan ragu - ragu.
"Selamat pagi, Ahjumma." Jinri membuka lebar pintunya, membungkuk memberi hormat dan sapaan. Sebenarnya, hal itu dia lakukan karena dia hanya ingin menghindari tatapan mata dari ibu Woo Bin.
"Kau sungguh tidak tahu diri," Ibu Woo Bin melengos masuk sedikit kedalam apartment anaknya. Ia mengepalkan tangannya kuat. Hatinya masih belum bisa menerima Jinri. Dia masih tetap pada pendiriannya. Jinri bukan gadis yang akan menaikkan status sosialnya di khalayak umum.
"Bukankah aku menyuruhmu untuk segera pergi dari kehidupan Woo Bin?" Jinri kini ada dihadapan Nyonya Kim. Dia tidak ingin menunduk. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia harus berani. Dia harus membangun tembok pertahanan yang kuat didalam hatinya agar tidak mudah jatuh dan hancur.
"A-aku tidak bisa, ahjumma." Jinri menatap sendu mata Nyonya Kim. Nyonya Kim yang awalnya mengalihkan pandangan matanya ke arah lain, kini mulai membalas tatapan Jinri. Dengan tatapan yang tajam, tentunya.
Plak.
Tangan yang terlihat sedikit kaku melayang ke pipi Jinri. Perih.
"Eomma?!" Woo Bin terkejut saat dia melihat ibunya menampar pipi kekasihnya, dia mulai menghampiri wanita paruh baya dan gadis tersebut.
Jinri menunduk diam. Tidak. Untuk kali ini dia harus menahan tangisnya. Dia harus menahan rasa sesaknya. Sekali lagi kutekankan, ia harus terlihat kuat dan berani.
"Kau membuat Woo Bin lari dari acara yang kau tahu itu sungguh penting bagi keluargaku. Kau mengajaknya bersembunyi ditempat ini. Tanpa ada orang yang tahu. Dan kini dengan beraninya kau mengatakan tidak bisa pergi dari Woo Bin? Dimana akal sehatmu?"
"Eomma ini ti—"
Ucapan Woo Bin berhenti saat ia melihat Jinri yang tiba - tiba berlutut. Tepat dihadapan kaki Nyonya Kim. Dan tetap dalam keadaan menunduk.
"Maaf, ahjumma. Jika memang karena aku, Woo Bin lari dari acara pertunangannya. Maaf juga karena aku tidak sanggup jika harus melepaskan Woo Bin. Memang terdengar egois dan tolol, tapi sungguh ini yang aku putuskan. Aku tidak peduli lagi dengan akal sehat, karena itu sungguh menyulitkan aku. Sekali lagi maafkan aku jika ini lancang, ahjumma. Tapi tolong, setujui hubungan kami. Aku mencintai Woo Bin. Sangat dan sangat mencintainya." Jinri tetap menahan tangisnya. Dia melontarkan rentetan kalimat - kalimat yang memang seharusnya ia katakan sedari dulu. Ia tidak sanggup lagi bersembunyi dari masalah yang harusnya ia hadapi dan ia selesaikan.
Nyonya Kim tercengang. Woo Bin pun merasakan hal yang sama. Dia tidak menduga bahwa Jinri akan bicara dengan ibunya se-berani ini.
"Begitupun aku, eomma. Aku juga sangat mencintai gadis yang ada disampingku ini. Maaf jika aku mempermalukan kalian karena acara itu gagal. Aku hanya ingin mempertahankan kebahagiaanku sendiri, eomma. Apa itu salah? Dan kebahagiaanku adalah bersama Jinri. Hanya itu. Aku mohon eomma, setujui hubungan kami." Woo Bin pun ikut berlutut disamping Jinri dan ikut memohon kepada ibunya agar bisa sedikit membuka hatinya untuk menerima Woo Bin yang memilih bersama Jinri. Bersama pilihannya sendiri.
Nyonya Kim merapatkan rahang bawahnya. Sangat angkuh. Matanya tidak ingin melihat Jinri dan Woo Bin yang sedang berlutut didepan kakinya. Setelah dia berhasil mencerna apa yang telah mereka berdua katakan, Nyonya Kim keluar dari apartment Woo Bin tanpa sepatah kata pun. Meninggalkan mereka yang masih diam dalam posisinya.
Jinri dan Woo Bin menatap punggung Nyonya Kim dengan nanar. Jinri takut. Bagaimana jika semua perkataannya tadi tidak digubris sama sekali? Bukankah itu akan sia - sia?
"Kau hebat." Woo Bin tersenyum menoleh menatap Jinri. Jinri membalas tatapan Woo Bin lalu mengangguk dan tersenyum. Bagus! Bahkan sampai detik inipun tidak ada air mata yang keluar. Dia menepati janji kepada dirinya sendiri untuk tidak membuang - buang air matanya lagi kali ini.
Woo Bin berdiri. Menawarkan tangannya yang akan membantu Jinri bangkit dari posisinya. Jinri meraih tangan Woo Bin, berusaha bangkit dari posisinya.
"Woo Bin-ah, bagaimana jika ahjumma tetap—"
"Ssst. Jangan khawatir. Eomma sebenarnya tidak sejahat itu. Dia hanya terbutakan oleh status sosial dan harta," Woo Bin mengerlingkan matanya lalu tersenyum.
"Dan kurasa kita tadi mulai berhasil menyadarkannya." Woo Bin melanjutkan ucapannya sembari berjalan mendahului Jinri menuju ruang tengah.
"Jangan terlalu percaya diri."
"Jangan terlalu takut dan terus berpikiran buruk."

***

Seorang gadis terlihat menekan bel apartment berulang - ulang. Semburat kekesalan terlukis jelas di wajahnya.
"Oh sungguh. Apa dia sedang tidak ada disini?" Gadis itu mulai menggerutu. Matahari sudah tenggelam dua jam yang lalu, dia bahkan harus berbohong kepada kekasihnya agar bisa berada disini. Ya. Lee Jinri. Sekarang dia berada tepat didepan pintu apartment Min Ho. Tujuannya? Menemui pria itu, mengatakan bahwa dia akan melunasi hutang - hutangnya sedikit demi sedikit, menanyakan apa maksud omong kosong 'cinta pertama' nya, dan membatalkan pernikahan konyol nya. Walau dia tahu itu tak akan mudah, tapi bagaimanapun dia harus segera menyelesaikan ini.
"Nona Lee Jinri?" Suara yang tepat dibelakangnya dan tak asing ditelinga Jinri. Berat dan meng-intimidasi. Lee Min Ho. Ya, itu pasti dia.
"Min Ho-ssi, kita perlu bicara." Jinri membalikkan tubuhnya dan mendapati Min Ho dengan wajah lelahnya, pulang dari mengurus perusahaannya.
"Kalau begitu kita perlu masuk terlebih dahulu."
"Kurasa tidak—" Min Ho tidak menggubris ucapan gadis itu dan mulai sedikit melewati Jinri, menekan kode untuk membuka pintu apartmentnya. Setelah pintu berbunyi tanda kunci sudah terbuka, Min Ho mulai masuk ke dalam dan disusul dengan Jinri yang mengikutinya dari belakang.
"Aku ingin kau membatalkan pernikahan kita." ucap Jinri saat dia masih mengikuti langkah Min Ho yang entah mau ke arah mana.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
"Kumohon." Jinri mengubah nada bicaranya menjadi sedikit lebih sendu.
"Apa keuntunganku jika aku membatalkan pernikahan kita? Lalu bagaimana dengan hutangmu, hm? Kau bahkan tak sang—"
"Aku sanggup!"
"Jangan terlalu memaksakan diri begitu." Min Ho mengajaknya ke ruang tengah. Mereka duduk dalam jarak yang sedikit lebih jauh satu sama lain.
"Aku akan bayar sedikit demi sedikit. Sampai lunas." ucap Jinri, berusaha meyakinkan pria yang ada bersamanya saat ini.
"Kalau kuberi batasan waktu? Bagaimana?"
"Min Ho kumohon. Kau tahu hidupku sudah cukup sulit. Kau bahkan ta—"
"Dan seharusnya kau tidak lari dariku, Nona Lee Jinri." Min Ho menatap Jinri dengan tajam. Kalau boleh jujur, Min Ho sungguh merindukan Jinri. Dan selama dia kehilangan jejak Jinri, dia berusaha berpikir setengah mati agar Jinri tetap berada disampingnya.
"Tentang omong kosongmu mengenai cinta pertama itu, apa maksudnya?" Jinri mengalihkan pembicaraan sejenak. Masih ada hal yang perlu dipertanyakan kepada Min Ho.
"Kau benar - benar melupakanku, ya?"
Jinri mengangguk.
"13 tahun yang lalu. Kau melakukan taruhan dengan tetangga sekaligus teman baikmu. Kalian bersaing nilai ulangan matematika. Dan ternyata nilaimu lebih rendah darinya. Lalu kau berjanji akan men-traktir ice cream dan dari situ kalian semakin dekat." Min Ho menjelaskan dengan mata menengadah ke langit. Mencoba mengingat lebih detail kejadian yang sudah belasan tahun yang lalu.
Jinri bungkam dan menggeleng - gelengkan kepalanya pelan. Masih mencoba mengingat hal yang diceritakan Min Ho, tapi hasilnya nihil.
"Tetangga sekaligus teman baikmu itu aku, Jinri-ah." Min Ho menghela nafasnya. Kenapa gadis ini sama sekali tidak mengingatnya?
Jinri diam. Masih bergelut dengan pikirannya yang mulai berjalan mundur. Mengorek memori - memori lama yang ada di otaknya.
"David?" Jinri menggumamkan sebuah nama yang tak terdengar asing di telinga Min Ho.
"Ya. Ini aku."
"Tidak mungkin. Mengapa ka—"
"Aku mengalami kecelakaan yang cukup parah. Tepatnya pada 7 tahun yang lalu. Aku kritis dan dokter mengatakan bahwa mereka harus melakukan bedah plastik di bagian wajah hingga leherku. Resikonya adalah, wajahku akan sedikit berbeda dari yang asli. Orang tuaku menyetujui nya asal aku selamat. Dan, ini hasilnya. Bukankah aku terlihat sedikit lebih tampan?"
"Tapi sungguh, wajahmu berubah banyak, tidak sedikit. Aku bahkan tidak bisa mengenalimu saat kau untuk yang kali pertama datang ke tempat kerjaku."
"Seharusnya hati mu lebih peka."
Jinri berdecak heran. Bagaimana bisa wajah teman baiknya 13 tahun yang lalu bisa jauh berbeda begini?
"David atau Min Ho? Oh sungguh, kau membuatku pusing."
"Bukankah kau sudah kuberitahu bahwa aku sempat tinggal di California? Namaku Lee Min Ho. Tapi orangtuaku serta orang - orang disana lebih senang memanggilku dengan nama David. David Lee,"
Jinri diam. Dia masih belum bisa mencerna dengan baik apa yang Min Ho bicarakan. Dia sungguh tidak mengerti kenapa pria ini tiba - tiba datang kembali di kehidupannya.
"Aku merindukanmu, Lee Jinri." Min Ho menatap sendu ke arah Jinri. Dan Jinri membalas tatapan itu dengan tatapan bingung.
"Jadi ini, alasanmu ingin sekali menikahi aku?"
"Apakah aku terlihat sangat ingin menikahimu?" Sahut Min Ho, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kesal.
"Kau sangat egois." Jinri berdiri, berniat meninggalkan Min Ho saat ini. Jinri merutuki dirinya sendiri karena pertanyaan bodohnya tentang cinta pertama Min Ho. Seharusnya dia tidak menanyakan hal itu karena itu membuat suasana semakin canggung.
"Kau kira selama 13 tahun kita tidak bertemu, siapa yang ada dipikiranku selain dirimu? Bahkan tak jarang terbesit dipikiranku untuk membunuh orang tuaku sendiri karena mereka yang memutuskan pindah dari rumah itu, dan itu jelas membuatku gila,"
Jinri menghentikan langkahnya. Separah itu? Jinri masih tidak sepenuhnya mengerti apa maksud perkataan Min Ho sedari awal.
"Sepertinya perasaan yang aku pertahankan selama 13 tahun ini akan berakhir sia - sia." Lanjut Min Ho. Matanya memerah. Kumohon jangan! Min Ho tidak boleh terlihat lemah dihadapan Jinri. Ini akan semakin membuatnya terlihat menyedihkan.
"Min Ho, aku—"
"Terlebih lagi saat aku mengetahui bahwa kau sudah bersama pria lain. Bertahan bersamanya cukup lama. Dan sialnya, pria itu terlihat sangat mencintaimu. Itu sungguh membuat dadaku sesak. Seharusnya kau tahu itu."
"Kau terlambat."
"Bahkan aku tidak menduga jika akhirnya akan seperti ini."
Jinri diam. Tangannya mulai mengepal kuat dan hatinya bergetar. Sungguh, perkataan Min Ho tadi sanggup membuat hatinya sedikit merasa bersalah. Tunggu... Merasa bersalah? Tapi... Untuk apa?
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Jinri-ah? Ini sungguh membuatku terlihat seperti pria yang sangat tolol."
Jinri membalikkan tubuhnya, ia menatap mata bening Min Ho.
"Lepaskan aku. Hanya itu."
"Tapi tidak se—"
"Min Ho-ssi, aku sangat mencintai Woo Bin. Banyak hal yang ia lakukan demi aku. Apalagi saat kau mulai muncul kembali di hidupku. Ki—"
"Lalu pada intinya kau menolak perasaan 13 tahun ku ini dan memilih bersamanya, begitu?"
"Maaf."
Mereka bungkam. Sibuk dengan pikirannya masing - masing. Terutama Min Ho, perkataan Jinri sungguh berhasil menghujam tepat dihatinya. Rasanya, sakit.
"Baiklah. Aku melepasmu." Min Ho menghela nafas nya kasar. Kalimat itu tiba - tiba muncul keluar dari bibirnya.
"A-apa?"
"Haruskah ku ulang perkataan yang menyakitkan itu dua kali, Jinri-ah?" Min Ho memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya dengan wajah sedikit kesal. Seperti biasa, bersikap gentleman.
"Lalu, hutangku?"
"Sudah kuanggap lunas."
Wajah bingung Jinri seketika berubah menjadi senyuman dan matanya langsung berbinar. Dia senang. Usahanya kali ini sangat membuahkan hasil. Walau ia tau, Min Ho pasti tidak akan mudah menerima semua ini. Oke, pada akhirnya Jinri lah yang menang. Karena pada dasarnya, Min Ho tidak bisa berbuat banyak. Posisinya sendiri adalah pengganggu. Dan itu sangat menyulitkan dirinya sendiri. Dan dia juga bukan tipe orang yang sangat teramat jahat. Min Ho masih punya hati.
"Min Ho, kemarilah." Jinri mengarahkan tangan kanannya ke arah Min Ho, menggerak - gerakkan beberapa jarinya seakan meminta Min Ho untuk menghampirinya.
Min Ho bingung, dia memilih untuk menurut dan pelan - pelan dia melangkah mendekat ke arah Jinri. Sampai akhirnya kini mereka berdua sudah berhadapan, dengan jarak yang lumayan dekat.
"Apa aku menyakitimu?" Tanya Jinri. Min Ho terkekeh lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain sejenak.
"Itu ti—"
"Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu hal kepadaku?" Tanya Jinri, sedikit meng-intimidasi.
"Lalu kau ingin aku melakukan apa?"
"Peluk aku." Jinri tersenyum, membuka kedua tangannya lebar - lebar. Min Ho sungguh dibuat heran dengan sikap pujaan hatinya ini. Bukankah tidak lama sebelum hal ini terjadi, Jinri masih bersikap dingin dan menuntut?
"Min Ho-ah, apa kau ti—"
Grep.
Min Ho menarik Jinri ke dalam pelukannya dan itu membuat perkataan Jinri terpotong. Ini sungguh melegakan. Sesak dan sakit yang ada di dalam dada Min Ho perlahan - lahan berkurang. Min Ho memejamkan matanya, mencoba merasakan hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya dan sedikit mempererat pelukannya. Sentuhan gadis ini sungguh ajaib bagi pria itu.
Jinri mulai membalas pelukan pria itu. Tidak erat, hanya bermaksud menenangkan. Ia tau bahwa keputusan Min Ho untuk melepaskan Jinri adalah keputusan yang akan mengacaukan hatinya karena ternyata dia lebih memilih untuk mengikuti logikanya. Dan itu pilihan yang bagus.
"Jaga dirimu baik - baik." Ucap Min Ho yang masih belum ingin melepas pelukannya.
"Jangan menghindariku dan tetaplah disini. Jika kau sudah dapatkan gadis yang terbaik, segera beritahu aku. Mengerti?"
Mereka tertawa, masih dalam posisi saling berpelukan. Ini sungguh keputusan yang baik.
"Berbahagialah bersamanya. Karena kebahagiaanmu, adalah kebahagiaanku juga."

***

Tuhan tahu mana yang terbaik. Ya, kalimat itu memang sungguh benar adanya. Kisah si gadis yang menyedihkan itu ternyata berakhir dengan cukup bagus. Lee Jinri, yang awalnya merasa bahwa dirinya hanyalah benalu dikehidupan Woo Bin—kekasihnya sendiri, kini mulai mengerti mengapa dia harus melewati masa - masa sulit yang sungguh membelenggu pikirannya.
"Aku bahkan sudah memikirkan hal ini pasti akan terjadi." Suara yang tak asing ditelinga Jinri kini mulai mendekat ke arahnya. Berdiri disampingnya sembari melihat ke arah hamparan pemandangan yang cukup indah.
"Aku tidak pernah berpikir bahwa akhirnya akan begini." Jinri tersenyum, menunduk sejenak, masih belum sangat percaya bahwa akhirnya hubungan mereka bebas dari tuntutan apapun.
"Kau selalu berpikir hal - hal yang buruk jika sudah merasa kesal atau putus asa. Jangan begitu, ya. Itu tidak baik." Woo Bin memandang Jinri sejenak, sedangkan gadis yang dipandangnya lagi - lagi tersenyum. Saat ini, mereka sedang berada di Namsan Tower. Bermaksud jalan - jalan dan mencari udara segar.
"Bukankah itu lebih baik daripada menjadi orang yang keras kepala nya keterlaluan?" Balas Jinri, lalu menoleh ke arah Woo Bin dan mengerlingkan matanya.
Woo Bin mendengus. Ada benarnya juga. Jika dipikir - pikir, selama ini Woo Bin lah yang terlihat sangat antusias dan terkesan sangat mempertahankan pendiriannya dibanding Jinri yang sangat lemah dan mudah goyah.
"Lalu apalagi?" Ucap Jinri, dia memasukkan kedua tangannya kedalam saku mantelnya. Udara disini terasa sangat dingin bahkan sudah menusuk hingga ke tulang.
Perlu kalian tahu, bahwa Ibu—atau lebih tepatnya orang tua Woo Bin akhirnya menyetujui hubungan mereka. Usaha Jinri dan Woo Bin untuk meluluhkan hati Nyonya Kim benar - benar berhasil. Itu membuatnya sadar bahwa tidak seharusnya seorang ibu mengekang keinginan anaknya untuk bersama dengan gadis pilihannya yang sangat dia cintai. Min Ho? Aish, pria itu. Dia mengatakan bahwa awalnya memang terasa sakit, sakit sekali. Tapi setelah itu dia mengerti. Melihat Jinri tersenyum itu sungguh melegakan hatinya daripada membuatnya menangis dan bersedih setiap hari.
"Sebentar." Woo Bin memasukkan tangannya ke dalam mantel. Seperti merogoh isi saku, mencari sesuatu yang akan ia tunjukkan pada Jinri.
Kini mereka berhadapan. Jinri masih diam dan menunggu apalagi yang akan dilakukan dengan pria keras kepala yang ada dihadapannya ini.
"Lee Jinri, kumohon. Menikahlah denganku." Woo Bin mengeluarkan cincin dari sakunya. Terlihat sederhana dengan hanya berhiaskan satu permata kecil yang anggun.
Jinri tersenyum menatap Woo Bin. Pria yang ada dihadapannya ini sungguh berpengaruh besar pada kehidupannya.
"Cincin itu kurang menarik. Aku tidak suka."
"Hei yang benar saja!" Woo Bin berdecak kesal. Dia bermaksud mengajak Jinri untuk bicara serius, tetapi tanggapan Jinri sungguh menyebalkan.
"Lalu aku harus menjawab apa?" Tanya Jinri seolah pura - pura bodoh. Bermaksud untuk menggoda Woo Bin, tentunya.
"Kau bisa menjawabnya dengan 'baiklah, Kim Woo Bin. Kita akan bertemu di altar.' kalau tidak, bisa saja dengan 'Kurasa itu ide yang bagus. Aku mencintaimu, Kim Woo Bin.' atau begini—"
"Kau terlalu banyak bicara. Sungguh." Jinri mengecup bibir Woo Bin sekejap, lalu mengambil cincin yang masih dipegang Woo Bin dan langsung memakai cincin itu dijari tengahnya.
"Baiklah. Kelihatannya tidak buruk." Jinri berjalan pergi meninggalkan Woo Bin sembari melihat cincin yang sudah terpasang manis di jari tengahnya.
"YA! Lee Jinri!"

Finn.

Jumat, 09 Januari 2015

Love chap 1

LOVE

Pemain : Bobby, Jinhwan, Chanwoo, Donghyuk, B.I, Junhoe, Yunhyong, Choi Hana, Kim Seohyun, Lee Jinri, Park Minyoung.

Author pov.
          Teriakan, pujian, maupun bingkisan cantik sudah menjadi aktivitas sehari hari bagi ketujuh siswa yang sedang memasuki halaman utama Seoul Internasional High School (SIHS). Bukan karena mereka pahlawan sekolah. Bukan juga karena mereka artis, penyanyi, maupun model, bahkan ketampanan mereka lebih dari ketiga profesi yang disebutkan. Mereka adalah para penguasa sekolah, sekaligus  anggota osis serta tim disipliner sekolah. Banyak para siswi yang berbuat masalah hanya karena ingin bertatap muka secara langsung dengan salah satu dari ketujuh penguasa sekolah.
          iKon, itulah nama kelompok penguasa sekolah tersebut. Sepertinya tidak lengkap bila tidak mengenalkan satu persatu anggota iKon. Pertama, ketua iKon yang berjalan paling depan menggunakan topi dengan lebel yang masih terpasang panggil saja dia B.I (Hanbin). Selanjutnya baris kedua dari kanan, siswa yang paling pendek diantara semuanya memiliki nama Jinhwan, yang ditengah dengan topi miring dan playboy di sekolah ini adalah Bobby, di samping kiri Bobby, siswa yang menggunakan kacamata sebagai fashionnya hari ini adalah Donghyuk. Kemudian di baris terakhir dari kanan, memiliki sebutan ‘manly boy’ dari  para penggemarnya bernama Junhoe, di samping kiri adalah siswa yang termuda dari ke tujuh siswa penguasa sekolah memiliki nama lengkap Jung Chanwoo, dan terakhir memiliki senyuman yang tidak akan pudar ia adalah Yunhyong.
Ketujuh namja tersebut memasuki ruangan khusus yang disediakan oleh pihak sekolah untuk mereka, setelah berusaha keras menghindari lautan kaum wanita di sekolah ini.
“Apa semua siswi di sekolah ini tidak ada kerjaan lain selain menghadang kita?” ucap Junhoe.
“Seharusnya kau bangga masih ada orang yang menyukai namja dingin sepertimu” ucap Yunhyong yang membuat kelima namja tersebut tertawa. Sedangkan Junhoe hanya memandang kesal Yunhyong.
“Hentikan tawa kalian! Aku akan membagi tugas kalian masing masing seperti biasanya” perintah leader iKon, membuat kelima namja menghentikan tawa mereka dan memandang serius B.I begitu juga dengan Junhoe dan Yunhyong.
“Jinhwan hyung, Yunhyong hyung, dan Bobby hyung seperti biasa kalian harus mengurus semua siswa maupun siswi yang membolos di jam pelajaran, Donghyuk, Junhoe, Chanwoo, serta aku akan mengurus siswa dan siswi yang berbuat onar di sekolah” instruksi tegas sang ketua. Keenam namja hanya menganggukan kepala mereka bertanda setuju atas perintah ketua.
^^^^                                                                                   
Kim Seohyun pov.
          Impian, semua orang di dunia ini pasti memiliki impian. Begitu pula dengan diriku yang memiliki impian menjadi seorang penari professional. Aku tak peduli dengan yang namanya cinta, pelajaran, dan apapun yang ada di dunia ini, hidup ku hanya ku pusatkan pada impian ku. Anggap saja aku egois, tapi masa bodoh impian ku jauh lebih penting dari segalanya.
          Ku gerakkan tubuhku mengikuti irama music yang menyala. Bel sekolah sudah berbunyi sejak 10 menit yang lalu, tapi tubuhku enggan untuk mengakhiri semua gerakan ini, ahh.. mungkin aku akan membolos hari ini, toh semua guru di sekolah ini tidak peduli karena semua pelanggaran yang menyangkut para murid disini sudah diatur oleh penguasa sekolah.
          Disaat aku sedang serius mempelajari suatu gerakan baru, tiba-tiba music berhenti dengan sendirinya. Apakah diruangan ini ada hantu? Tapi hantu mana yang bisa menyentuh peralatan keras. Sepertinya aku melupakan sesuatu, ahh aku mulai ingat dengan seseorang yang sudah aku anggap sebagai benalu di hidup ku ini. Dia adalah salah satu dari penguasa sekolah.
“Kim Seohyun, seperti biasa kau membolos pada jam pelajaran sekolah. Sudah berapa kali ku peringatkan dirimu tentang poin pelanggaran milikmu yang selalu bertambah setiap kau membolos. Apa aku harus menambah lagi poin pelanggaran milikmu?”ujarnya sambil menulis sesuatu yang ku yakin dia menulis tambahan poin pelanggaran ku.
“Kim Jinhwan, kau kira aku peduli dengan semua peringatan yang kau berikan kepadaku? Cihh, In your dream” seru ku sambil memandang tajam dia. Dan dia hanya tertawa, ku yakin kalau ada siswi yang lewat ia akan pingsan di tempat seketika, tapi aku.. tidak akan pernah tertipu dengan senyuman sok tampan miliknya.
“Aku hanya tidak ingin murid di sekolah ini memiliki kebiasaan buruk yang akan berakibat pada masa depan mereka” ujar Jinhwan masih dengan senyumannya.
“Sepertinya kau harus ingat ini. Kau hanyalah salah satu dari penguasa sekolah ini dan bukanlah penguasa dunia ini yang berhak mengatur masa depan seseorang”seru ku lantang pada dia.
“Benar kata orang, berbicara dengan orang egois memang susah. Sebaiknya aku pergi dulu dan kau segeralah kembali ke kelas masih ada jam pelajaran ke 3 dan 4” ujarnya. Dan setelah itu ia keluar meninggalkan ruangan ku ini.
“Sudah tau aku egois , tapi kenapa kau selalu menganggu ku?” seruku sambil melihat pintu yang sudah tertutup.
^^^^
Choi Hana pov.
          Banyak yang bilang pelajaran matematika adalah pelajaran yang paling mematikan di dunia ini. Aku setuju dengan argument itu karena semua teman sekelas ku hanya memandang bosan papan tulis, bahkan ada yang tertidur. Sedangkan aku, aku hanya membaca buku yang tidak ada sangkut pautnya dengan pelajaran paling mematikan ini. Bila kalian menganggap aku benci pada pelajaran ini, mungkin kalian salah. Aku bahkan sudah hafal semua materi pelajaran ini. Alasan kenapa aku tidak memperhatikan pelajaran ini, karena aku sudah bosan mempelajari sesuatu yang sudah ku hapal di luar kepala.
          Perhatian ku pada buku teralih ke luar jendela. Tiba-tiba perhatianku berpusat pada seseorong yang selama ini ku kagumi bisa dibilang aku juga mencintai sosok itu. Sosok itu adalah salah satu dari anggota iKon yang juga disebut playboy sekolah ini namanya Bobby. Bila banyak siswi di sekolah ini yang mempunyai alasan kenapa mereka menyukai dia, tetapi diriku tidak mempunyai alasan apapun tentang kenapa aku menyukai bahkan sampai mencintainya. Aku sadar 100% kalau aku tak pantas hanya sekedar menjadi pendamping sementara dia, dengan penampilanku yang bisa dibilang cupu ini.
          Kulihat dia sedang berbicara menggunakan bahasa tubuh pada seseorang di kelas ini. Kuedarkan pandangan ku untuk mencari sosok yang telah membuat perhatian Bobby pada salah satu siswa yang bermasalah teralihkan. Rupanya sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Yoojung kekasih Bobby. Bisa dibilang Yoojung adalah murid tercantik di kelas ini, sehingga bisa membuat seorang yang berpenampilan cool seperti Bobby menyukainya. Dibandingkan dengan penampilan ku yang nerd ini, aku jamin Bobby pasti langsung memasukkan aku ke dalam list perempuan yang tidak ingin ia ajak kencan bahkan berbicara.
“He, apakah kalau kita memandangi Yoojung terus menerus akan membuat kita menjadi cantik seperti dia?” ucap seseorang di sebelah ku yang berhasil membuyarkan lamuanan ku.
“Apa?” ujar ku.
“Kok apa sih. Kan aku tanya apakah kalau kita memandangi Yoojung terus menerus akan membuat kita menjadi cantik?” ujar kembali seseorang di sebelah ku ini. Dia adalah sahabat ku yang memiliki umur paling muda diantara kedua sahabatku yang lain. Dia juga sahabatku yang bisa dikatakan idiot, jadi kusarankan bagi kalian yang ingin berteman dekat dengannya untuk lebih menyiapkan stock kesabaran diri kalian masing-masing.
“Aku hanya tidak sengaja memandanginya” balas ku sambil ku fokuskan kembali pada buku di tangan yang sempat ku abaikan.
“Bohong itu dosa loh. Tadi aku lihat kamu terus menerus memandangi Yoojung. AHH.. apa jangan-jangan seseorang yang selama ini kamu sukai itu dia. Sungguh aku tak menyangka selama ini kau ternyata jeruk jerukan” ucap asal lagi seseorang disamping ku ini dengan ekspresi terkejutnya.
“Hahh.. Dengar Park Minyoung! aku hanya tidak sengaja melihat kearahnya tadi dan aku 1000% masih normal, jadi sebaiknya kau diam dan ikuti pelajaran ini atau kau mau disuruh mengerjakan 50 soal seperti dulu” ucap ku padanya dan langsung membuatnya kembali larut dalam urusan catat mencatat.
^^^^
Author pov.
          Jam istirahat adalah jam surga kedua bagi seluruh murid di belahan bumi ini. Sama halnya dengan seluruh murid yang ada di SIHS. Kantin yang semula sepi dan hanya ditempati oleh aroma penggoda perut sekarang menjadi sasaran empuk seluruh murid SIHS. Sepertinya bukan cuma makanan yang menjadi sasaran empuk, tapi satu meja panjang juga telah menjadi sasaran kedua setelah makanan bagi para siswi di sekolah ini. Tanpa perlu ditanya pun, kalian pasti sudah tau pemiliknya siapa. Ya, siapa lagi kalau bukan penguasa sekolah, iKon.
“Bagaimana dengan tugas kalian hari ini?” tanya leader iKon yang rupanya sudah selasai dengan urusan ‘mari kita memberi makan cacing di perut’.
“Sama seperti hari biasanya, banyak siswi yang melanggar dengan alasan yang tak masuk akal” balas Yunhyong yang diamini oleh kelima namja lainnya.
“Setidaknya kita sudah menjalankan tugas dengan benar” ucap B.I dan diangguki oleh lainnya. Oh ya, jangan lupakan teriakan para siswi disana sebagai pengiring dari seluruh gerakan bahkan juga pernafasan yang dilakukan oleh para penguasa sekolah.
          Bila seluruh siswi sibuk menjadi backsong grup iKon, lain halnya dengan meja panjang yang berada di sudut ruangan ini. Meja tersebut hanya ditempati oleh keempat siswi yang sibuk memberi makan pada cacing di perut mereka masing-masing.
“Aku bingung” ucap salah satu siswi yang bername tag Park Minyoung.
“Apa yang kau bingungkan?” tanya siswi yang bernama Choi Hana.
“Mereka siapa sih? Apa mereka artis? Atau pemain sepak bola seperti my honey Ronaldo?” ujar Minyoung.
“Kau tidak tau siapa mereka?” tanya Hana kembali dan membuat Minyoung menggelengakan kepalanya dengan keras.
“Aku hanya sering melihat mereka di kerubungi banyak orang selama 2 tahun terakhir ini dan awalnya aku kira mereka penjual makanan yang enak, jadi ya aku ikut-ikutan mengantri” ujar Minyoung kembali. Dan membuat Choi Hana sepertinya harus menambah kadar kesabarannya.
“Anggaplah mereka hanya sekumpulan orang yang sok tampan dan juga sok berkuasa disini” ucap Seohyun sambil meletakkan supit menandakan bahwa kegiatan memberi makan cacing di perut sudah selesai.
“Benarkah? Tapi menurutku mereka memang tampan dan juga mereka bukanlah orang yang berkuasa buktinya mereka tidak memakai baju kebesaran raja begitu pula dengan mahkotanya” ucap Minyoung lagi. Ketiga siswi yang lain hanya menatap iba Minyoung.
^^^^
Lee Jinri pov.
          Semua orang memiliki suatu cerita masa lalu entah itu sedih maupun senang. Begitu pula dengan diriku, Lee Jinri. Sebenarnya aku bukanlah orang yang suka mengungkit masa lalu, tapi satu kenangan yang sampai saat ini masih terus berada dalam ingatanku, suka tak suka membuatku harus selalu mengingatnya.
          Ekor mataku melihat di satu sosok yang sampai saat ini masih aku cintai. Dia adalah cinta pertama ku, Jung Chanwoo. Kenangan yang sangat jelas terukir dalam ingatanku, pada saat salju pertama turun di negara ku, dimana saat itu ia harus membuat ku berhenti menulis jalan cerita antara diriku dan dirinya pada lembaran kehidupan ini. Karena di hari itulah dia memutuskan hubungan kami secara sepihak. Sampai 3 tahun kejadian itu berlalu, aku masih tidak tau penyebab dia memutuskan hubungan kami. Dan yang paling bodohnya aku masih mengharapkan dia kembali seperti dahulu. Mungkin hanya dalam mimpi ku saja dia akan kembali, yaa setidaknya aku masih bisa merasakan perhatian dia seperti dahulu.
“Berhenti berharap pada masa lalu yang tak mungkin kembali” ucap Seohyun salah satu sahabat terdekatku. Mungkin sudah ke seribu bahkan jutaan kali dia mengatakan kalimat itu apabila aku sedang memikirkan dia.
“Aku hanya melihat keadaan sekitar” ujar ku sambil mengalihkan perhatian ku.
“Kau tak usah bohong. Kau bukanlah seorang aktris professional, Lee Jinri” ucapnya. Aku hanya menghela nafas, tak ada gunanya juga aku menyanggah ucapannya apabila yang dia katakan memang benar kenyataannya.
“Kejadian itu sudah 3 tahun berlalu, tapi kenapa kau masih tidak bisa melupakannya? Kau tak ingat dia yang mengakhiri hubungan kalian” ucap satu sahabatku yang lain bernama Hana.
“Dia adalah cinta pertamaku, banyak kenangan antara aku dan dia. Haruskah aku dengan mudah melupakannya?” ucap ku dengan jujur.
“Sekarang coba kau lihat, apakah dia masih mengingatmu?” tanya Seohyun. Ekor mata ku kembali melihat ke satu sosok yang sedang dikerubungi banyak siswi disini, tapi aku masih bisa dengan jelas melihat rupa yang masih saat ini sangat kukagumi itu.
“Aku tak yakin dia masih mengingatku” tanpa sadar aku mengucapkan kalimat itu.
“Kalau kau tak yakin dia masih mengingatmu, kenapa kau harus bersusah payah mengingatnya” ucap Seohyun yang membuat diriku sadar akan sesuatu.
‘Mungkin memang benar, aku yang terlalu bodoh masih mengingatnya dan mungkin dia sudah membuang semua kenangan kita’ batin ku sambil memandang sedih kearahnya.
^^^^
Author pov.
          Berdasarkan survey yang dilakukan oleh para pengamat sosial, membuktikan bahwa rata-rata para pelajar di seluruh belahan bumi ini sangat menyukai saat bel pulang sekolah berbunyi. Dan itu terbukti oleh salah satu siswi bernama Park Minyoung yang berteriak keras saat bel sekolah berdendang di kedua telinganya. Kelakuan Minyoung mampu membuat seluruh teman sekelasnya menambahkan dia kedalam orang yang ingin mereka bunuh bila hukum tidak ditegakkan di negara ini.
“Diamlah, Park Minyoung! Kau tak lihat seluruh anak disini menatap mu dengan tatapan membunuh” ucap teman sebangku Minyoung sekaligus salah satu sahabatnya Choi Hana.
“I don’t care. Kau tak tau aku baru saja melewati ujian yang sangat berat dan sekarang waktunya aku bertemu dengan selingkuhanku” ucap antusias Minyoung.
“Selingkuhan? Siapa?” tanya Jinri yang sudah berada di samping Hana.
“G dragon” jawab Hana.
“Choi Hana, kau memang sahabat ku yang paling tau segalanya tentang ku, aku jadi terharu” seru Minyoung sambil menatap haru Hana. Sedangkan Hana hanya menghela nafas panjang. Dan Jinri hanya menatap iba pada Hana.
“Aku pulang duluan. Bye bye semuanya, jangan kangen diriku yaa” ucap Minyoung sambil memeluk kedua sahabatnya itu lalu pergi meninggalkan kelas yang hampir sepi.
^^^^
Park Minyoung pov.
          Lihatlah bangunan yang berdiri megah itu. Kalian tau, disana didalam sana di salah satu ruangan disana ada seseorang yang sangat kucintai. Sayangnya tuhan belum mau mempertemukan aku secara langsung dengan dia. Tapi aku Park Minyoung selalu percaya bahwa ini semua ujian yang aku lewati dan pasti akan indah pada waktunya, yaa indah pada waktunya.
          Tidak seperti hari biasanya, hanya aku yang berdiri sendiri disini. Mungkin mereka sudah lelah menunggu sesuatu yang tak pasti. Ah dasar, sifat manusia yang gampang menyerah, untung aku bukan tergolong tipe manusia seperti itu.
“Hey, apa yang kau lakukan disini?” tanya seseorang yang ku duga dia adalah seorang pria, sambil menepuk bahu ku. Sentuhan seseorang tadi membuatku menoleh kearah samping. Dan aku melihat seorang pria yang memakai seragam sekolah sama seperti ku. Bila dilihat dari seragamnya dia berasal dari satu sekolah yang sama dengan ku. Tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya?
“Aku?” tanya ku pada pria di hadapanku ini. Dia hanya mengangguk bertanda íya’.
“Ohh.. aku menunggu pujaan hati ku” jawab ku. Kulihat dia mengerutkan dahinya.
“Pujaan hati?” tanya dia lagi.
“Iya” jawab ku. Entah kenapa aku merasa dia seperti sedikit kecewa mendengar ucapan ku tadi.
“Ohh seperti itu. Kita belum berkenalan. Namaku Kang Donghyuk dan aku satu sekolah dengan mu” ucapnya sambil mengangkat tangan kanannya, seolah mengajakku untuk menjabat tangan kekar itu.
“Namaku Park Minyoung. Apakah kau anak baru? aku tidak pernah melihatmu sebelumnya di sekolah” seru ku sambil menjabat tangan kekar namun terasa hangat bagiku.
“Aku bukan anak baru” ucapnya sambil tersenyum.
“Maafkan aku. Aku memang jarang keluar kelas kalau tidak bersama sahabat ku hehehe” ucap ku jujur sambil melepas jabatan tangan itu.
“Tidak apa-apa. Kalau boleh tau, siapa pujaan hatimu yang kau tunggu?” tanyanya sambil menatap ku dalam.
“G dragon aka leader Big Bang aka pujaan hatiku” seru ku lantang sambil tersenyum lebar.
“Benarkah?” tanyanya lagi. Aku hanya menganggukan kepala ku bertanda ‘iya’. Setelah itu kulihat dia tersenyum lebar sama seperti diriku 1 menit yang lalu.
“Kalau begitu, kenapa tidak kau masuk kedalam dan temui dia?” tanyanya lagi. Ku simpulkan dia tipe orang kepo tingkat akut.
“Kalau aku masuk disana pasti langsung dibuang ke madagaskar oleh orang-orang yang berbadan kekar itu” jawab ku sambil melihat petugas keamanan.
“Aku bisa membantu mu masuk ke dalam dan bertemu dengan dia” ucapnya langsung membuatku berpaling ke dia.
“Benarkah?” tanya ku dengan langtang. Memikirkan aku bisa masuk disana dan bertemu langsung dengan GD saja sudah membuatku hampir pingsan apalagi kalau nyata.
“Iya. Ayahku adalah salah satu pemilik saham terbesar di perusahaan ini jadi aku bisa keluar masuk dari bangunan itu” jawabnya.

“Aku mohon bawalah aku kesana, kau kan baik dan tampan. Aku mohonn”ucapku sambil memberi tatapan aegyo yang ku pelajari.
 “Tapi ada syaratnya” ucapnya.
“Apapun syaratnya aku tak peduli termasuk harus lompat dari gedung itu, asalkan bisa bertemu GD” ujar ku jujur padanya. Kulihat dia tersenyum misterius.
“Baiklah, syaratnya kau harus mau berkencan denganku” serunya. Berkencan dengannya? Bahkan menikah dengannya pun aku mau. Ayolah siapa yang bisa menolak lamaran pria tampan ini.
“Ok, Deal” ucap ku dengan tersenyum. Sedangkan dia masih tersenyum misterius.
^^^^
Author pov.
          Bila di hari biasanya banyak teriakan penuh kebanggaan para siswi SIHS untuk penguasa sekolah, namun sepertinya teriakan hari ini berubah menjadi teriakan kekecewaan. Alasannya tak lain dan tak bukan karena satu dari ketujuh penguasa sekolah sedang berjalan dengan santainya memasuki halaman sekolah sambil menggandeng sesosok wanita. Penguasa sekolah tersebut adalah Kang Donghyuk sedangkan wanita beruntung itu bernama Park Minyoung.
          Banyak siswi terutama para penggemar Donghyuk yang menangis melihat adegan tersebut. Lain halnya dengan kedua objek yang menjadi pusat perhatian. Donghyuk seperti biasanya hanya tersenyum menawan sedangkan Minyoung tersenyum polos tanpa dosa.
^^^^
Kang Donghyuk pov.
          Banyak hari bahagia dalam hidup ku, tetapi tidak ada yang lebih special dari hari ini. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bisa menggandeng wanita yang selama ini ku sukai dan beranjak menjadi wanita yang ku cintai. Bisa dibilang aku adalah tokoh jahat disini. Karena aku mengajak kencan dia sebagai syarat agar dia bisa bertemu dengan idolanya melalui bantuanku. Tapi masa bodohlah, kupastikan dia akan berbalik mencintai ku seperti aku mencintainya.
“Kenapa mereka pada memandangi kita seperti itu? Apa mereka tidak pernah melihat orang bergandengan?” tanya wanita disampingku dengan ekspresi lugu miliknya. Inilah salah satu alasan ku menyukainya.
“Mungkin. Nah kita sudah sampai di kelasmu. Nanti aku akan menjemput mu waktu istirahat” ucap ku sambil menghadap kearahnya.
“Oke. Jangan telat ya, nanti aku kehabisan strawberry cake” ucapnya. Strawberry cake memang menjadi makanan favoritenya dan aku sudah lama mengetahui hal itu.
“Tidak akan. Sekarang masuklah kedalam dan belajarlah dengan serius” ujar ku sambil membelai rambutnya yang sangat halus itu. Dan kelakuan ku tadi berhasil membuat siswi disini berteriak lebih heboh lagi.
“Kau seperti mama ku saja. Lebih baik kau segeralah pergi ke kelas mu agar tidak terlambat” sarannya yang tanpa sabar membuat ku tersenyum.
“Baiklah calon mama” ucap ku sambil melepas genggaman tangan kita berdua.
“Aku adalah wanita dan bisa dipastikan aku adalah calon mama” ucapnya sambil mempautkan bibirnya. Kelakuannya membuat ku tertawa.
“Hahaha.. I know. Baiklah, Aku pergi dulu” ucap ku dan setelah itu aku beranjak pergi menuju ke ruangan pribadi iKon. Belum beberapa lama aku melangkahkan kaki menjauh dari tempat itu, aku mendengar seruan suara yang membuat ku tersenyum bahagia.
“Donghyuk, sampai ketemu nanti. Bye.. Bye..” seru Minyoung.
^^^^
“Menikmati kencan, Bro” ucap seseorang yang kuyakini dia Yunhyong hyung setelah aku menutup pintu ruangan pribadi iKon.
“Sangat” ujar ku sambil beranjak menuju sofa. 
“Kau satu langkah lebih dulu dari pada mereka, Bro” ucap Junhoe.
“Pastinya hahaha” ucap ku sambil tertawa.
“Donghyuk, bantulah mereka. Aku kasihan melihat mereka menderita terus menerus” ujar B.I dan membuat semuanya tertawa kecuali ketiga sahabat ku yang hanya memandang kesal.
“Tenang. Aku sudah menyusun ide untuk mendekatkan mereka semua kepada sang pujaan hati mereka masing-masing” ucap ku sambil tersenyum bahagia. Ketiga sahabat ku langsung tertawa sedangkan ketiga sahabat ku yang lain makin memandang kesal kearah kami bertiga.
TBC..