Senin, 26 Januari 2015

Love chap 2

LOVE
Pemain : Bobby, Jinhwan, Chanwoo, Donghyuk, B.I, Junhoe, Yunhyong, Choi Hana, Kim Seohyun, Lee Jinri, Park Minyoung.

Author pov. 
          Surga dunia, kalimat yang tepat untuk menggambarkan keadaan seluruh murid yang bersekolah di SIHS ini. Pengumuman beberapa menit yang lalu, mampu membuat seluruh koridor dan kelas di sekolah ini bergonjang akibat teriakan bahagia semua murid disini. Sedikit lebay, itulah yang ada dipikiran anda. Tapi apakah kalian tidak bahagia bila mendengar pengumuman bahwa seluruh guru mengadakan rapat sampai jam istirahat usai? Pastinya kalian akan mengikuti kelakuan murid SIHS ini.
Kesempatan emas ini tentu tidak disia-siakan oleh seluruh murid SIHS. Buktinya banyak kelas yang bisa dibilang tidak berpenghuni. Seluruh murid lebih memilih untuk keluar kelas merasakan oksigen kebebasan mereka, daripada merasakan oksigen yang membuat seluruh syaraf mereka menegang. Tapi bila dilihat satu dari sekian banyak kelas yang ada di SIHS, sepertinya hal itu tidak berlaku bagi ketiga siswi yang sedang duduk dengan saling berhadap-hadapan ini.
“Minyoung, kau berhutang penjelasan pada kami semua” ucap Hana sambil melihat kearah Minyoung.
“Penjelasan apa? Kalian kan lebih pintar daripada aku. Kenapa kalian minta penjelasan pelajaran padaku? ” tanya Minyoung sambil menunjukkan ekspresi wajah lugu miliknya. Membuat Hana dan Jinri menghela napas mereka pelan.
“Bukan penjelasan seperti itu, Minyoung sayang” ucap Jinri dengan sabar.
“Lalu yang bagaimana?” tanya Minyoung lagi.
“Kenapa tadi pagi kau bisa bersama dengan salah satu dari mereka?” tanya Hana.
“Salah satu dari mereka? Siapa?” tanya Minyoung lagi.
“Kim Donghyuk” jawab Jinri sambil berusaha sabar menghadapi perilaku dari Minyoung, begitu pula dengan Hana.
“Ohh.. Donghyuk, aku tadi pagi dijemput olehnya. Jadi yaa, aku ke sekolah bersama dia” ucap Minyoung.
“Bagaimana kalian bisa kenal?” tanya Hana lagi.
“Kemarin, saat aku menunggu my GD di kantornya. Kita bertemu, berkenalan, dan juga berkencan hehehe” ujar Minyoung sambil tertawa tanpa dosa.
“Ohh.. begitu” ucap Hana dan Jinri bersama.
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
5 detik
“APAA?? BERKENCAN??” teriak kedua wanita itu dengan keras, sehingga membuat beberapa murid disekitarnya langsung menoleh kearah mereka. Sadar akan kelakuan yang diperbuat, mereka berdua langsung membungkukkan tubuh bersama tanda ‘minta maaf’ atas kelakuan mereka.
“Bisakah kalian tidak berteriak seperti itu? Aku hanya berkencan bukan menikah” ujar Minyoung.
“Ke..kenapa bisa sampai berkencan?” tanya Hana lagi.
“Hana, apa yang kau makan tadi malam? Kenapa hari ini kau kepo sekali? Sungguh berbeda dengan kelakuan mu yang biasanya. Apa jangan-jangan kau bukan Hana sahabatku?” ucap Minyoung sambil menatap kearah Hana dengan ekspresi terkejut. Hana? Hanya menghela napas untuk yang kesekian kalinya.
“Minyoung sayang, ini adalah Hana sahabat kita. Hana dan aku sangat penasaran kenapa kau bisa bersama Donghyuk. Jadi wajarkan Hana banyak bertanya padamu. Mengerti? ” ujar Jinri mencoba membantu Hana menghadapi kelakuan ajaib sahabat mereka ini. Minyoung menganggukan kepala dengan keras bertanda ia mengerti dengan ucapan Jinri.
“Baiklah.. Jadi gini.. Woo.. Donghyukk” penjelasan Minyoung terputus saat ia melihat Donghyuk berjalan kearah mereka. Hana dan Jinri langsung mengalihkan perhatian mereka pada satu sosok itu.
“Hai, Minyoung” sapa Donghyuk dengan senyum menawan andalannya. Walaupun kelas ini sepi, eitss.. jangan lupakan keadaan di luar kelas yang begitu ramai dengan teriakan, saat salah satu member iKon dengan senang hati berkunjung ke kelas ini.
“Hai, Donghyuk. Kenapa kau kemari?” tanya Minyoung.
“Aku ingin mengajak mu ke luar, kau tidak keberatan?” tanya Donghyuk balik.
“Asalkan ditempat yang banyak makanannya, aku tidak keberatan sama sekali” ujar Minyoung dengan senyum tanpa dosanya. Hal ini membuat Donghyuk semakin mengembangkan senyumannya.
“Apapun keinginan mu akan ku kabulkan. Ayo kita segera pergi” ucap Donghyuk sambil menarik tangan Minyoung sehingga membuat Minyoung berdiri dari tempat duduknya.
“Hana, Jinri, kita ketemu lagi nanti yaa. Bye.. bye..” ucap Minyoung sambil berjalan keluar kelas. Langkah demi langkah Minyoung dan Donghyuk diiringi oleh teriakan milik seluruh siswi disini. Ohh.. jangan lupakan kedua siswi yang sejak tadi hanya melamun melihat interaksi kedua sosok itu.
“Kenapa aku merasa bersyukur saat Minyoung berkencan dengan Donghyuk” ucap Jinri yang sudah tersadar.
“Me too” ujar Hana.
“Sekarang tinggal kita” ucap Jinri.
“Aku ingin ke taman, kau sendiri?” tanya Hana.
“Mungkin ke ruang vocal” ujar Jinri. Hana hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan Jinri.
^^^^
           Bisa dibilang sepanjang koridor SIHS penuh dengan lautan murid disini. Tetapi hal itu tidak berarti, bila anda menuju ke ruang vocal sekolah ini. Bukan lautan manusia yang kalian jumpai, akan tetapi suara merdu dari piano yang akan memanjakan telinga anda. Siapa orang yang memainkan suara piano yang sangat indah itu? Sehingga membuat murid bernama Jinri terpaku?.
           Setelah sekian lama Jinri diam membisu mendengar lantunan piano, akhirnya ia tersadar ke dunia nyata. Dia melanjutkan perjalanannya yang tertunda tadi menuju ke dalam ruang music tersebut. Lantunan piano itu terdengar kembali di telinga Jinri, namun dengan nada yang berbeda serta terdengar lebih keras daripada yang tadi. Hal itu karena Jinri sudah sampai kedalam ruang music tersebut. Dilihatnya ada seorang lelaki yang sedang menikmati memainkan tombol-tombol piano itu dengan hikmat. Jinri mengenal sosok itu, tapi ia enggan untuk sekedar basa-basi menyapanya.
“Menikmati apa yang kau lihat atau apa yang kau dengar, Lee Jinri?” tanya sosok tersebut yang sudah menghentikan permainan nada-nada miliknya, membuat Jinri kembali pada dunia nyata.
“Yang ku dengar” ucap Jinri.
“Ternyata kau lebih menyukai nada-nada itu daripada diriku. Hal ini entah kenapa langsung membuat hatiku sakit” ujar sosok itu sambil memegang dada kirinya. Jinri? Siswi itu hanya memutar matanya.
“Seharusnya, tadi aku tidak terpaku pada apapun yang kau lakukan, Junhoe” ucap Jinri.
“Kau jadi semakin err.. jahat sekali padaku, Jinri. Apa karena kau berteman dengan mereka membuat sifatmu menjadi berubah 180’? Oh aku sungguh takut dengan sifatmu yang sekarang” ujar Junhoe menatap Jinri dengan ekspresi takut yang dibuat-buatnya.
“Hentikan ekspresi berlebihan mu. Yang perlu kau tau mereka adalah sahabat ku sejak kecil” ucap Jinri yang tanpa sengaja menatap Junhoe tajam.
“I know I know. Dan berhentilah menatap ku seperti itu, kau kelihatan seperti ibu tiri” ujar Junhoe. Jinri hanya menghela napas, baginya percuma berdebat dengan sosok di depannya ini.
“Apa yang kau lakukan di ruangan ini?” tanya Jinri mencoba mengalihkan perdebatan.
“Apakah ada larangan aku masuk di ruangan ini?” tanya Junhoe yang bagi Jinri tidak masuk akal.
“Aku hanya bertanya, kenapa kau di ruangan ini, Junhoe? Dan aku tidak mengatakan melarang mu masuk ke ruangan ini” ucap Jinri mencoba bersabar. Bagi Jinri, Junhoe adalah perwujudan Minyoung dalam versi cowok.
“Ya seperti tadi yang kau lihat, hanya memainkan beberapa alat music” ucap Junhoe dengan tersenyum. Jinri hanya menganggukan kepala bertanda dia mengerti ucapan Junhoe.
“Sebentar lagi ulang tahun Chanwoo. Apa kau akan datang?” tanya Junhoe yang membuat Jinri terdiam beberapa saat. Dia masih ingat betul kapan hari kelahiran mantan kekasihnya itu. Tapi semenjak putus ia tidak pernah datang atau sekedar memberinya ucapan selamat ulang tahun. Bukan karena ia tidak ingin datang (malah ia selalu antusias menyiapkan gaun yang ia pakai untuk ke pesta itu), alasannya adalah tidak adanya surat burung berlapis pita cantik yang mampir ke padanya.
“Bolehkah aku berharap untuk datang?” tanya Jinri tanpa sadar.
“Hei, kenapa harus berharap? Kau bisa datang sesuka hatimu” ucap Junhoe membuat Jinri lagi-lagi terdiam. Melamun lagi? Ya, semenjak putus dari Chanwoo, melamun sudah menjadi kebiasaannya, karena itulah Seohyun selalu menegurnya.
“Wait wait. Aku baru ingat, semenjak kau putus dengan Chanwoo, kau tidak pernah datang ke pesta ulang tahunnya. Apa kau memang sengaja untuk tidak datang kesana?” ujar Junhoe lagi.
“Apa kata mu? Justru aku sangat ingin datang ke pestanya, kau tak tau bagaimana diriku selalu mempersiapkan diri hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya” ucap Jinri spontan setelah tersadar dari lamunannya. Dengan gerakan spontan pula ia segera menutup mulutnya menggunakan kedua tangan miliknya.
“Wooo benarkah?” ujar Junhoe sambil tersenyum sangat tipis menyerupai seringai.
“Ahh tidak tidak, lupakan ucapan ku yang tadi. Mungkin aku harus pergi dari sini” ucap Jinri lalu berbalik ke arah pintu masuk pergi.
“Datanglah ke pestanya. Aku yakin dia pasti sangat menyukai kehadiran mu” ucap Junhoe dengan keras agar bisa terdengar oleh Jinri yang sudah berada di luar ruangan.
^^^^
           Atap sekolah, bangunan paling atas sekolah ini mungkin menjadi salah satu favourite banyak murid di sekolah. Udara yang langsung menerobos ke kulit serta pemandangan yang sangat memanjakan mata itulah alasan mengapa bangunan ini menjadi favourite. Tapi bagi salah satu siswa SIHS ini, ada alasan lain kenapa ia sangat menyukai berada lama-lama di atap sekolah. Karena alasan itulah, Bobby (sapaan akrab siswa itu) betah berlama-lama berada di atap sekolah ini.
           Matanya sibuk menyapu pemandangan yang berada di bawah atap sekolah ini. Setelah sekian lama, akhirnya mata elang miliknya berada tepat pada satu sosok wanita yang ia cari sejak tadi.
^^^^
Bobby pov.
           Love at first sight. Mungkin banyak orang yang tidak percaya dengan kalimat itu. Tapi bagiku, kalimat itulah yang selama ini ku rasakan. Dulu, mungkin aku hanya menganggap ini sabagai rasa ketertarikan ku saja padanya. Tapi semakin lama aku mulai sadar, bahwa selama ini aku mencintai dirinya sejak pandangan pertama. Karena itulah aku rela disebut playboy di sekolah ini.
“Harus berapa banyak wanita lagi yang ku ajak kencan agar kau memperhatikan ku?” tanya ku pada sosok yang ku tatap dari atas ini. Pengecut? Kata itu mungkin pantas untuk ku. Bila aku menceritakan hal ini kepada semua orang, tidak butuh 5 menit aku yakin mereka langsung mengataiku dengan kata itu.
“Tangga dan koridor sekolah menuju ke taman belakang, seingat ku tadi sepi” kata seseorang yang ku yakini ia adalah wanita, menyadarkan aku untuk kembali ke dunia nyata ini. Ku alihkan perhatian ku kearah samping dimana sosok itu berada. Benar dugaan ku, ia adalah wanita dan ku bahkan sangat mengenalnya.
“Apa maksud mu, Yoojung?” tanya ku pada wanita di sampingku.
“Daripada kau terus menerus memandanginya, lebih baik kau menghampirinya dan mengajak dia berkenalan. Simple bukan?” ucap Yoojung sambil memandang lurus ke depan dengan senyum yang mengembang.
“Sangat simple bagimu, tetapi tidak bagiku” ujar ku sambil memandang kembali ke bawah tepat pada sosok wanita yang ku cintai.
“Lalu, kau akan terus menjadikan aku kekasih bohongan mu. Oh My Godd.. kalau kau bukan saudara ku, sudah kupastikan Seunghoon akan membunuhmu karena sudah berani memperalat kekasihnya” kata Yoojung yang menurutku sedikit berlebihan.
“Memperalat? Sepertinya otak mu sedikit miring Yoojung. Bukannya waktu itu kau yang langsung menyetujui usulan dari Yunhyong” ujar ku tanpa melihatnya.
“Baiklah baiklah. Kata memperalat akan aku hapus” ucap Yoojung yang terdengar seidikit kesal. Setelah itu, aku lebih memilih diam memperhatikan wanita manis itu daripada menjawab ucapan Yoojung.
“Menurut ku, Hana suka atau mungkin cinta pada mu” ujar Yoojung yang membuat aku tersadar dari dunia ilusi.
“Benarkah?” tanya ku sambil melihatnya.
“Apa untungnya aku bohong kepada mu, my brother ehmm” ucap Yoojung sambil tersenyum melihat ku.
“Hahaha.. impossible” ucap ku dengan nada mengejek. Ku lihat Yoojung hanya tersenyum yang pasti menurut Seunghoon manis.
“Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin” ucap Yoojung yang membuat ku menaikan alis tebal ku bertanda aku tidak mengerti ucapan dia.
“Mungkin selama ini Hana bersikap acuh terhadap apapun mengenai dirimu. Tapi, apa kau tau isi hatinya? Aku adalah wanita dan aku tau bagaimana sifat wanita yang lagi jatuh cinta atau pun suka pada lawan jenis” ucap Yoojung. Setelah itu, muncul satu pertanyaan dalam benakku.
‘Benarkah apa yang Yoojung di katakannya? Dan benarkah dia menyukai ku?’. Belum sempat aku menerka nerka jawaban dari pertanyaan ku sendiri, tiba tiba Yoojung mendekat kearah ku dan membisikan aku sebuah kalimat.
“Sadarlah! kita harus menjadi artis professional, my brother” ucap Yoojung.
^^^^
Author pov.
           Bila semua siswa SIHS bersenang-senang dengan oksigen kebebasan ini. Lain halnya dengan siswi yang memiliki nama Kim Seohyun, ia lebih memilih menghabiskan seluruh oksigen kebebasan dengan berlatih keras meraih impiannya. Mungkin kali ini dia harus mengucapkan banyak terima kasih kepada semua guru di SIHS, karena hari ini ia terbebas dari salah satu tim disipliner yang sudah ia cap ‘parasit’ di hidupnya.
           Prok.. Prok.. Prok.. suara tepukan tangan seseorang mengiringi berakhirnya gerakan yang dilakukan Seohyun. Ohh terima kasih kepada kaca yang membentang luas pada ruangan ini, karena ia bisa langsung mengenali sosok itu melalui pantulan kaca di depannya. Rupanya Seohyun enggan menyapa sosok itu, dan lebih memilih mengambil sebotol air mineral.
“Ternyata tidak sia sia kau membolos. Hasilnya sangat memuaskan” ucap sosok itu sambil mendekat kearah Seohyun yang sedang meneguk minuman.
“Daripada kau berbicara omong kosong, lebih baik kau pergi dari sini, Hanbin” ucap Seohyun yang selesai meneguk minumannya pada sosok yang ternyata salah satu idola sekolah ini.
“WOW.. rupanya sifat galak mu tidak berubah, Seohyun” ucap Hanbin yang membuat Seohyun hanya memandang tajam kearahnya.
“Sloww girl.. aku kesini hanya ingin menemui pasangan di kelas dance ku dulu” ucap Hanbin sambil tersenyum.
“Kalau tidak ada urusan lain lebih baik kau pergi karena aku sungguh tidak ada waktu untuk mengurusi mu” ucap sarkastik Seohyun.
“Oke okee.. aku lupa kalau kau tak suka basa basi. Baiklah, tujuan ku kesini selain melihat mu, aku juga ingin menyampaikan berita penting dari sekolah” ucap Hanbin.
“Lalu hubungannya dengan ku apa” ujar Seohyun.
“Aku memilih mu untuk mewakili Dance Competition in Seoul untuk sekolah kita” ucap Hanbin dengan tersenyum.
“Kenapa harus aku?” ujar Seohyun.
“Karena aku tau kau adalah yang terbaik dalam hal ini. Ahh aku lupa memberi mu satu hal penting, competisi ini mengharuskan mu berpasangan dan aku juga sudah menentukan pasangan mu” ujar Hanbin membuat Seohyun menautkan alisnya.
“Aku tidak mau. Kenapa tidak kau saja yang maju mewakili sekolah” ucap Seohyun.
“Apa kau tidak ingat dengan kaki ku waktu itu? Dan sejak saat itu aku tidak bisa ngedance dengan sempurna seperti sebelumnya” ucap Hanbin. Seohyun hanya diam membisu setelah Hanbin menyelesaikan ucapannya.
“Alasan kau menolak ini, apa karena kau takut kalah, Kim Seohyun? Kalau benar, berarti selama ini aku salah menilai dirimu, Kim Seohyun” ucap Hanbin dengan tersenyum menyeringai yang menyulut emosi seorang Kim Seohyun.
“Kau.. baiklah aku akan mewakili sekolah ini dan akan ku buktikan padamu kalau aku sama sekali tidak takut dengan kata ‘kalah’” ucap Seohyun dengan menatap tajam Hanbin. Sedangkan Hanbin hanya tersenyum puas.
“Inilah Kim Seohyun yang ku kenal. Jadwal latihan mu dengan pasangan mu akan ku atur. Baiklah aku pergi dulu, istirahatlah agar badan mu lebih fit” ucap Hanbin dengan tersenyum lalu berbalik menuju pintu keluar.
“Siapa pasangan ku?” tanya Seohyun yang berhasil membuat langkah Hanbin terhenti.
“Kau akan tau nanti” ucap Hanbin dengan tersenyum misterius tanpa melihat Seohyun.
^^^^ TBC









         




Tidak ada komentar:

Posting Komentar